Tips Sukses Dengan Menciptakan Peluang

Seorang penulis tidak akan bisa hidup dengan inspirasinya. Kalau inspirasi hilang, maka karyanya tidak akan tercipta dan hidupnya tak akan berjalan dengan tinta kering. Beberapa penulis menyatakan bahwa inspirasi hanya bisa datang sendiri, tetapi waktu tidak akan menunggu penulis, bukan? Maka, akhirnya terbentuklah satu frasa terkenal di kalangan penulis, yaitu ‘mencari inspirasi.’ Tentu saja hal ini diartikan sebagai ungkapan, karena inspirasi sesungguhnya ide yang ada di dalam kepala penulis sendiri, tetapi emosi yang ada dalam diri seringkali menghambat otak untuk mengucurkan ide-idenya.

Begitu juga dengan peluang. Seperti halnya inspirasi, peluang sebenarnya ada dalam persepsi kita. Peluang bisa terjadi hanya apabila kita bisa memanfaatkan banyak hal-hal di sekitar kita menjadi peluang-peluang bisnis. Artinya, bukan peluang yang menghampiri kita dan memberikan manfaatnya, tetapi kita sendiri yang menciptakan peluang tersebut.

Memang, ada kalanya kita merasakan bahwa peluang tidak pernah sampai kepada kita. Sementara orang memperoleh peluang, seperti modal untuk memulai bisnis atau rekan kerja yang mempunyai keahlian yang bisa dimanfaatkan, dan lainnya, peluang itu tidak pernah bisa kita peroleh. Namun, peluang-peluang ini menjadi peluang hanya karena orang yang menerima mempersepsikannya sebagai peluang.

Misalkan, seseorang yang tiba-tiba mendapatkan penawaran sebuah modal untuk memulai bisnis. Apakah itu peluang? Ya, kalau orang yang ditawarkan segera memutar otak mencari bisnis apa yang dapat dimajukan dengan jumlah modal yang ditawarkan. Sebaliknya, hal itu bukan peluang apabila orang tersebut takut untuk menerima dan berhutang kepada pemodal tersebut, sehingga menolak untuk berbisnis dengan uang itu. Kira-kira begitu ilustrasi sebuah peristiwa bisa menjadi peluang atau tidak.

Mari kita anggap bahwa hal itu terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Kita tidak memiliki modal, tidak pula memiliki lahan atau keahlian untuk memulai bisnis. Apakah itu artinya kita tidak berpeluang? Sama sekali salah, karena peluang selalu bisa dicari di setiap peristiwa. Misalkan, kita tidak memiliki keahlian dalam bisnis, kita bisa mencarinya lewat media sosial, seperti Facebook atau LinkedIn, yang khusus mewadahi para pekerja. Saat kita menemukan orang yang cocok, kita bisa mengajaknya bekerja sama.

Begitu pula apabila kita tidak memiliki lahan atau uang untuk membangun bisnis. Kita bisa berkeliling kepada orang-orang dengan sumber daya berlebih dan tertarik pada investasi bisnis, lalu menawarkan kerja sama bisnis dengan mereka. Jadi, selalu ada jalan untuk memulai bisnis kalau kita mau berusaha dan memutar otak.

Yang paling penting adalah tidak pernah berhenti berusaha. Apabila satu orang menolak, kita akan selalu menemukan satu orang lain yang bisa jadi memiliki visi yang sama sehingga akan lebih mudah untuk diajak bekerja sama.

 

Berfikir Menang, maka Anda Menang

Otak manusia merupakan alat tercanggih dari seluruh teknologi di dunia. Tidak hanya menerima respon dari semua syaraf di bagian tubuh, otak juga mengendalikan hormon serta proses tubuh lain, seperti lapar dan kenyang, analisa dan emosi, dan lain sebagainya. Dalam proses otak pula, terjadi proses persepsi yang paling rumit karena berhubungan dengan tidak hanya sistem internal dalam tubuh, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan eksternal si manusianya.

Persepsi sangat mempengaruhi Anda dalam keseharian, bisa dibilang magic kit buat seluruh tindak-tanduk Anda. Contoh sederhana saja, orang yang terbiasa berpikir negatif akan terlihat dari bahasa tubuh dengan bahu menurun, gaya berjalan yang lamban, mata yang kurang bersinar, karena persepsi negatif telah mempengaruhi caranya bersikap di hadapan dunia di luar dirinya. Begitu pula dengan orang yang berpikir positif, bahasa tubuh mereka tampak dari punggung yang tegak, ujung bibir yang agak tertarik ke atas, hingga jalan yang tegas.

Tidak hanya itu, persepsi dapat mempengaruhi Anda hingga pada keputusan yang Anda ambil dalam hidup Anda, sekalipun kadangkala beroperasi secara tidak sadar. Orang yang positif tidak mengalami banyak kecemasan, sehingga tidak terlalu punya banyak ketakutan akan masa depan. Hal itu membuat mereka lebih cepat dalam mengambil keputusan dan bertindak tanpa pertimbangan tak perlu yang menghambat gerak mereka.

Kerap kali motivator manapun sering berkata bahwa Anda semua adalah pemenang dari awal. Bahwa Anda merupakan salah satu hasil 1 dari 300 juta sperma, maka Anda pemenang dari awal. Tidak mengherankan motivator suka sekali menggunakan pernyataan yang sugestif ini agar pola pikir itu tertanam dalam benak Anda menjadi satu persepsi yang dapat diaplikasikan dalam keseharian Anda.

Maka dari itu, tidak heran, orang yang sedari awal berpikiran positif dan selalu menganggap dirinya adalah orang yang akan memperoleh kemenangan, cenderung akan sukses nantinya. Tidak peduli apakah ia adalah murid yang pernah juara dari belakang di sekolahnya atau anak yang berani megabaikan kata-kata otorita di sekitarnya. Bagaimanapun, pada dasarnya anak-anak adalah makhluk kreatif yang penuh antusiasme belajar dengan tempo yang cepat dan melompat-lompat. Apakah otorita di sekitarnya paham atau tidak, itu yang jadi masalah sebenarnya.

Anda juga perlu menanamkan hal tersebut dalam benak Anda. Bahwa Anda adalah pemenang. Bahwa Anda akan sukses dalam apapun yang Anda lakukan, sehingga persepsi positif itu akan membuat Anda yakin dalam setiap tugas yang Anda kerjakan. Sekalipun gagal, Anda akan sadar bahwa gagal hanya pelajaran untuk kesuksesan yang menanti di depan Anda.

 

 

 

 

 

 

Benarkah Bisnis Hanya Keberuntungan?

Sebagian orang begitu takut untuk memulai bisnis. Bahkan, bisnis dipandang sebagai sumber pemasukan yang tidak pasti dan rentan akan runtuh hingga mengakibatkan kebangkrutan. Maka, sebagian orang yang berpendapat seperti ini lebih suka mengabdikan hidupnya pada satu perusahaan yang secara konstan memberikan mereka gaji per bulan.

Lain lagi halnya dengan orang yang memulai bisnis, tetapi tidak memiliki keyakinan untuk sukses. Mereka kerap berhenti di tengah jalan. Kebanyakan dua tipe ini menganggap bahwa orang yang berhasil dalam bisnis merupakan orang-orang yang memiliki keberuntungan cukup tinggi hingga bisa terus mempertahankan bisnisnya. Atau beralasan bahwa seseorang cukup beruntung punya modal untuk memulai bisnis.

Pemikiran ini tentu saja salah besar. Tidak ada bisnis yang berhasil semata-mata hanya karena keberuntungan. Bahkan, bisa jadi keberuntungan sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis. Saat kita menemukan uang koin, apakah kita beruntung? Tidak, karena posisi mata kita memang tepat mengarah pada uang koin yang terjatuh. Apakah uang koin terjatuh karena kebetulan? Tidak, karena orang yang memegang uang koin tidak sengaja menjatuhkannya, mungkin karena ia terburu-buru mengambil sesuatu dari tas atau karena kantong celananya bolong, yang pada intinya membuat ia adalah orang yang ceroboh. Jadi, bisa dibilang kebetulan dan keberuntungan hanya alasan orang-orang untuk menyamankan diri di tengah kompetisi bermasyarakat.

Begitu juga bisnis dan keberuntungan. Tidak ada bisnis yang dimulai semata-mata dari keberuntungan. Walaupun anak orang kaya memulai bisnis dari modal bapaknya, hal itu tidak pernah menjamin dia akan sukses mengembangkan bisnisnya. Bahkan, orang yang tidak punya modal secuilpun bisa saja berkeliling ke sponsor-sponsor dan donatur-donatur yang menjanjikan, sehingga ia akhirnya mampu mengumpulkan modal untuk memulai bisnis. Ada banyak jalan menuju Roma, bukan?

Dalam prosesnya sendiri, bisnis juga tidak bisa mengandalkan keberuntungan sama sekali. Memilih bisnis saja membutuhkan perhitungan yang cermat tentang kondisi pasar yang menjadi target. Lalu, membangun kekuatan internal bisnis agar bisnis tidak tersendat karena masalah internal, artinya pelaku bisnis harus membentuk sistem dan alur kerja yang dapat melancarkan bisnis.

Tidak berhenti sampai di situ, pelaku bisnis juga harus memperhitungkan biaya produksi agar dapat memaksimalkan laba usaha, sehingga pelaku bisnis juga harus memiliki strategi dalam keuangan, serta strategi marketing yang menjadi kunci pemasukan dalam bisnis.

Tanpa memiliki kemampuan dalam berstrategi pada masing-masing elemen bisnis, maka bisnis juga tidak akan berkembang. Belum lagi inovasi yang harus dilakukan karena kadang ada pula bisnis-bisnis yang bersifat musiman. Ketika musim berakhir, tentunya mereka harus memutar otak agar bisnis tetap bertahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kisah Sukses Chef Terkenal Gordon Ramsay

Siapa yang tidak kenal Gordon Ramsay? Chef ini mulai terkenal dengan reality show-nya, yaitu Hell’s Kitchen. Lalu, pemunculannya sebagai juri yang impresif dalam Masterchef USA membuat namanya semakin melambung. Sebelum dua acara ini, Gordon Ramsay juga telah membuat acaranya. Akhirnya, ia terkenal sebagai celebrity chef, yang tidak hanya memasak di dapur, tetapi juga berkiprah sebagai entertainer.

Tidak hanya itu, restorannya berkali-kali memperoleh penghargaan Michelin Star, penghargaan di bidang kuliner. Pada saat ia mulai menjadi juri di reality show Masterchef USA, ia telah memperoleh 20 Michelin Star.

Namun, mungkin kita tidak tahu bahwa Chef Gordon Ramsay sebenarnya pernah menggeluti profesi sebagai pemain sepak bola muda di tanah kelahirannya, yaitu Skotlandia. Bahkan, ia sempat hampir direkrut oleh tim Rangers F.C., tetapi satu kecelakaan pada tulang rawan di lutut mengakhiri karirnya.

Karena sifatnya yang kompetitif, fakta bahwa ia tidak bisa lagi bermain membuatnya terluka. Patah hatinya berlangsung hingga beberapa tahun kemudian. Hingga Ramsay memutuskan untuk tidak lagi mau berlarut-larut dalam kesedihannya. Pada usianya 19 tahun, ia mulai tertarik pada bidang kuliner dan akhirnya memasuki North Oxfordshire Technical College, jurusan manajemen perhotelan. Di sanalah karirnya sebagai chef dimulai.

Walaupun Ramsay menyatakan bahwa karirnya di bidang kuliner sebagai murni kebetulan, hal ini tidak menyurutkan dedikasinya di bidang ini, sehingga ia berhasil memperoleh kesempatan untuk melatih diri di bawah bimbingan chef-chef ternama dunia, sebut saja Albert Roux dan Marco Pierre di London, serta Guy Savoy dan Joël di Perancis.

Pada setiap kisah orang terkenal dan sukses, selalu ada sekelumit kisah kegagalan. Bahkan, tak jarang kehidupan orang yang sekarang tampak sukses tidak selalu dimulai dengan mudah. Biasanya, mereka belajar untuk bangkit dari kegagalan mereka, menolak untuk terjebak dalam penyesalan atas kegagalan di masa lalu. Masa kini, bisa dibilang mereka belajar untuk move on dari apapun yang membuat mereka pernah terluka.

Maka, jelas kegagalan bukan suatu masalah yang perlu disesali. Kegagalan hanya sebuah batu loncatan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih matang dalam menjalani hidup. Gagal sekali-dua kali, bahkan berkali-kali seharusnya tidak perlu dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Karena pebisnis yang sukses selalu jatuh-bangun dalam membangun bisnisnya hingga ia berhasil menjadikan bisnis tersebut menjadi kerajaan yang dipenuhi profit. Tentu saja, ia menjadi rajanya.

 

Kebiasaan Orang Sukses adalah Membaca dan Belajar

Seseorang menjadi sukses bukan semata-mata karena keberuntungan. Mereka menjadi sukses karena mereka terdidik untuk itu. Ada beberapa kualitas mental yang biasa terdapat pada orang yang sukses dalam bisnisnya daripada orang yang berhenti atau bahkan, tidak memulai bisnis sama sekali. Kualitas mental ini yang mengarahkan mereka pada kerja efektif pada bisnis.

Salah satu kualitas yang berbeda pada orang yang sukses daripada orang kebanyakan adalah kemauan mereka untuk belajar. Rasa ingin tahu mereka tinggi dan mereka mempunyai kemauan untuk berjuang dalam memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu itu. Oleh sebab itu, wajar pula kalau mereka menjadi terdorong untuk lebih banyak membaca. Karena sumber pengetahuan memang lebih banyak terdapat dalam bentuk tulisan.

Kenapa membaca? Sebenarnya sumber ilmu tentu tidak hanya dapat diperoleh dari sumber tulisan. Banyak sumber-sumber lain, seperti seminar dan workshop, diskusi dalam grup, bahkan sekarang orang mulai menyebarkan ilmu lewat video youtube  atau DVD. Namun, bagaimanapun harus diakui sumber-sumber lain ini kebanyakan terbatas dan pada akhirnya seseorang harus mengabadikannya dalam tulisan.

Tulisan adalah catatan paling abadi sepanjang masa. Bahkan, sejak zaman prasejarah, manusia purba mencatat peristiwa-peristiwa dalam bentuk visual, yaitu gambar-gambar. Hingga, pada zaman selanjutnya, manusia mulai menemukan tulisan.

Bahkan, pada era internet yang sangat berkembang ini, orang-orang masih memilih untuk menjadikan tulisan sebagai sarana berekspresi mereka. Oleh sebab itu, wajar kalau membaca menjadi slogan dimanapun kita berada. Karena, kebanyakan sumber pengetahuan, baik secara offline atau online, ada dalam bentuk tulisan.

Orang yang sukses pun tentunya memiliki kehausan untuk membaca tulisan tentang ilmu-ilmu yang mereka butuhkan untuk mencapai puncak karir mereka. Dengan memenuhi pikiran mereka dengan pengetahuan, lantas menerapkannya, mereka memiliki banyak alternatif solusi bagi pencapaian bisnis mereka. Membangun sistem, struktur organisasi dalam bisnis, hingga strategi marketing dalam bisnis, semua hal-hal ini sudah dibukukan dalam bentuk tulisan dan dapat diakses lewat media apapun.

Tidak hanya pengetahuan teknikal, kadang-kadang kita membutuhkan inspirasi untuk memulai bisnis atau melakukan inovasi-inovasi dalam bisnis. Hal ini dapat kita dapatkan juga melalui buku-buku tentang bisnis atau blog-blog yang memuat tentang pengalaman seseorang memulai bisnis. Jadi, banyak sekali manfaat apabila kita mulai aktif membaca. Bagi orang yang tidak suka membaca, mungkin aktivitas ini menjadi beban tersendiri. Akan tetapi, kita dapat mempersepsikan bahwa bacaan diperlukan untuk memperluas wawasan. Sehingga, kita terfokus pada ilmu yang kita dapat daripada aktivitas membaca itu sendiri.

Jalan untuk Sukses adalah dengan Membantu orang lain Sukses

Membantu orang lain adalah sebuah bentuk kebajikan yang selalu diajarkan oleh orang tua kita. Seperti, aturan untuk berbagi dengan teman saat kita mempunyai makanan atau mau meminjamkan mainan untuk teman kita yang lain dan bermain bersama-sama. Ajaran itu berkembang seiring kita dewasa. Bagi anak muda yang menaiki jasa angkut kereta dianjurkan untuk memberikan porsi kursi mereka bagi yang lanjut usia atau ibu hamil. Intinya, kita selalu diajarkan untuk membantu orang lain.

Walaupun tujuan membantu orang lain bukan merupakan jasa balas budi yang bisa kita tuntut di kemudian hari, membantu orang lain bisa membuat kita sukses. Kita tidak membicarakan tentang seorang tukang becak yang mau memberikan tumpangan gratis dan ternyata penumpangnya adalah seorang miliuner yang kemudian mewariskan hartanya, sehingga tukang becak menjadi kaya mendadak. Hal itu mungkin nyata terjadi, tapi kesempatannya mungkin hanya 1 berbanding 1 juta kali.

Pernahkah kita membantu seseorang, lalu merasakan kepuasan setelahnya? Hal itu terjadi karena sebagai makhluk sosial, kita memiliki kebutuhan untuk mengikat diri secara emosional dengan orang lain. Maka, perilaku-perilaku yang berhubungan dengan ikatan terhadap orang lainnya itu menimbulkan kepuasan, karena sebenarnya kita tengah memenuhi kebutuhan sosial itu.

Menjalani kehidupan dengan kepuasan tentu membuat kita lebih optimis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk pula dalam menjalani bisnis. Memulai hari dengan perasaan baik akan membuat kita juga akan lebih fokus dan berpikir lebih jernih saat menyelesaikan tugas-tugas dalam bisnis. Ini jelas membantu kita untuk mencapai kesuksesan pribadi.

Sementara itu, saat membantu orang lain menapaki jalannya untuk sukses, kita juga menambah pengalaman-pengalaman dalam berbisnis. Secara tidak langsung, kita terlibat dalam permasalahan orang yang kita bantu dan kita juga membantu mencari solusinya. Artinya, itu adalah pelatihan gratis untuk kita sendiri, yang nantinya dapat diterapkan dalam bisnis kita sendiri.

Dalam melakukan kebaikan, kita juga tentunya akan mendapat balasan. Mungkin balasan itu tidak secara langsung diberikan oleh orang yang ditolong, tetapi bisa datang dari sumber lain. Bisa jadi dari orang yang mendengar atau mengamati bagaimana kita menunjukkan performa kita saat membantu orang lain dalam memecahkan persoalan dalam bisnis, sehingga ia tertarik untuk mengenal kita lebih jauh dan bahkan mengajak untuk bekerja sama.

Jadi, jangan pernah ragu untuk membantu sesama kita dalam menjalankan bisnis atau dalam masalah kehidupan lainnya. Walaupun tidak memperoleh balasan secara langsung, kita masih dapat menemukan kepuasan dan pengalaman-pengalaman lewat membantu orang lain.

Tips Membangun Sistem Dalam Bisnis

Bisnis tanpa sistem bagai negara tanpa undang-undang. Betapa tidak? Sistem merupakan pengaturan dalam alur bisnis yang dapat membantu bisnis berjalan dengan lancar. Apalagi kalau bisnis tengah berkembang dengan staf-staf yang semakin banyak jumlahnya. Maka, sistem akan membantu untuk menjalankan komando dan koordinasi pada masing-masing staf yang ada dalam bagian bisnis.

Apa yang terjadi kalau bisnis tidak dilengkapi dengan sistem yang baik? Bersiap-siaplah alur kerja jadi kacau dan ketidakpuasan staf yang terlibat akan semakin tinggi karena ketidakjelasan peran dan kemana mereka harus berkoordinasi setiap kali ada masalah. Miskomunikasi dan miskoordinasi akan membuat penyelesaian masalah tertunda dan jadi berlarut-larut.

Membangun sistem bisa dibilang seperti pepatah ‘berakit-rakit ke haluan, berenang-renang ke tepian.’ Sulit dan merepotkan pada awalnya, tapi begitu sistem terbentuk, alur kerja juga akan berjalan dengan sendirinya. Berikut tips-tips membangun sistem yang bisa berguna :

  1. Menetapkan visi dan misi

Setiap bisnis seharusnya punya visi. Misalkan, visi dalam bisnis makanan adalah menjadi pelopor dalam makanan bernutrisi. Atau portal berita mungkin memiliki visi untuk menjadi penyedia informasi yang cepat dan akurat, dan seterusnya. Upaya mencapai visi dilakukan melalui misi, yaitu cara yang harus dilakukan untuk mencapai visi yang kita punya. Selanjutnya, kita akan mudah mem-breakdown sistem yang diinginkan dengan berpedoman pada visi bisnis kita.

  1. Menganalisa kebutuhan organisasi bisnis

Setiap organisasi atau industri mempunyai kebutuhan yang berbeda. Tidak heran struktur juga bisa berbeda-beda, begitu pula dengan departemen-departemen yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan. Sistem dalam bisnis kita ini tentunya harus bersinergi dengan kebutuhan organisasi, supaya tujuan kita dalam bisnis tercapai.

  1. Menggunakan strategi pembentukan sistem

Membangun sistem juga membutuhkan strateginya sendiri. Banyak teori-teori untuk ini yang dapat kita manfaatkan. Sebagai contoh, business model generation, yaitu salah satu alat untuk mempermudah kita untuk memahami alur kerja bisnis dan memahami konsumen. Teori ini memiliki 9 komponen, yaitu customer segments, value proposition, channels, customer relationship, key resources, key activities, key partnership, dan cost structures. Dengan komponen ini, dibentuk business model canvas yang membantu kita membangun sistem yang kita inginkan.

  1. Diskusikan dengan staf

Jangan lupa bahwa staf atau partner kerja adalah komponen penting untuk kelancaran bisnis kita. Membangun sistem artinya menyesuaikan kebutuhan kita dengan mereka dalam hal menjalankan bisnis. Diskusi ini tidak perlu dilakukan secara langsung untuk membentuk sistem, tapi kita bisa mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan dan pendapat para staf sebagai permulaannya.

 

Tips Memilih Bisnis yang Tepat dan Waktu yang Tepat.

Membangun bisnis tidak bisa dilakukan sembarangan karena risiko dalam menjalani bisnis cukup besar, apalagi kalau bisnis yang membutuhkan modal besar. Semakin besar juga usaha yang harus dilakukan agar modal tidak hangus begitu saja.

Tips-tips memilih bisnis yang tepat dan waktu yang tepat untuk memulai bisnis berikut ini bisa jadi bahan pertimbangan, terutama bagi kita yang kiranya ingin memulai bisnis. Jangan terlalu terburu-buru, karena bisnis butuh perhitungan yang cermat, tetapi jangan pula terlalu ragu. Kadang, pertimbangan yang paling baik adalah berupa tindakan nyata.

  1. Survey tren pasar yang tengah berlangsung

Kita tidak perlu mengikuti tren pasar begitu saja. Namun, hal ini harus jadi pertimbangan. Pada waktu kita mau memulai bisnis, tren seperti apa yang tengah berlangsung? Lalu, apa solusi bagi tren ini, apakah membutuhkan napas segar yang baru ataukah sekadar memberikan sentuhan unik bagi bisnis yang sejenis? Tentu saja, hal ini harus dilakukan setelah kita melakukan survey dan observasi pada kebutuhan pasar yang kita targetkan.

  1. Bidang usaha sesuai passion

Akan jauh lebih efisien saat kita menjalankan bisnis yang sesuai dengan passion kita. Setidaknya, kita sudah mengetahui apa yang harus kita lakukan. Walaupun begitu, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan dalam menekuni bidang usaha adalah dengan mempelajarinya baik-baik dan memilih bidang usaha sesuai dengan passion yang kita punya artinya kita akan lebih senang saat mempelajarinya.

  1. Pemilihan waktu memulai bisnis

Memilih waktu yang tepat untuk memulai bisnis juga merupakan salah satu pertimbangan penting. Bagaimana daya beli masyarakat akhir-akhir ini? Bagaimana dengan tren pasarnya? Kalau jawaban-jawaban tentang pasar ini sudah kita ketahui, kita bisa memulai bisnis dengan strategi lebih baik. Misal, strategi untuk mendorong daya beli masyarakat akan produk kita di tengah kesulitan ekonomi atau mempertimbangkan selera pasar, lalu beriklan dengan cara yang menarik minat, dan lain sebagainya.

  1. Waktu yang tepat untuk memulai bisnis adalah hari ini

Seperti yang telah disebut, kita memang harus mempertimbangkan beberapa hal ketika ingin memulai bisnis. Namun, bukan berarti kita harus merampungkan semua pertimbangan 100% sebelum kita mulai. Jangan pernah menunda, karena kadang penundaan itu bisa melemahkan niat kita yang semula. Jadi, waktu yang tepat untuk memulai bisnis tentu saja, hari ini juga.

 

 

Strategi Mengelola Keuangan yang Sehat

Keuangan bisa dibilang masalah paling pelik dalam kehidupan manusia. Banyak orang bersitegang hanya karena sebuah kata yang sederhana ini. Uang merupakan alat pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Maka, wajar kalau seseorang memiliki kondisi keuangan yang kurang memadai, kehidupannya akan diwarnai dengan kecemasan. Terutama, di kota besar, dimana segalanya dihargai dengan uang dan komersialisasi merajalela di segala bidang kehidupan, bahkan yang pokok sekalipun.

Oleh karena itu, kita perlu mengelola keuangan dengan baik agar kondisi finansial kita terjaga dan kita bisa tidur tenang di malam hari. Berikut beberapa strategi untuk mengatur kelola uang.

  1. Pembagian fungsi uang

Agar tidak terjadi overbudgeting atau pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan, maka ada baiknya uang yang kita dapatkan dibagi terlebih dahulu sebelum benar-benar digunakan. Misalnya, kita dapat membagi uang kita 50% untuk belanja kebutuhan sehari-hari, 30% untuk investasi, dan sisanya untuk tabungan. Setelah itu, tetapkan hati untuk tidak mengganggu pembagian uang tersebut.

  1. Investasi dan tabungan

Fungsi investasi dan tabungan sebenarnya sama, menjaga keuangan agar tetap stabil sekalipun ada masalah yang akan datang di masa depan. Investasi juga tidak melulu harus di pasar saham. Dengan menggunakan asuransi pun, kita sebenarnya telah menginvestasikan uang kita. Tentu saja kita harus pilih-pilih perusahaan asuransi yang tepat untuk kebutuhan kita.

Tabungan adalah hal yang wajib dimiliki siapapun. Kalau seseorang tidak suka memutarkan uangnya dalam bisnis, maka paling tepat adalah tabungan. Dengan begitu, uang kita terjaga tetap di tempatnya.

  1. Rencanakan anggaran

Sebelum mulai menggunakan uang yang telah kita dapatkan, jangan terburu-buru ingin membelanjakannya. Ada baiknya buat satu rancangan anggaran belanja, berdasarkan daftar kebutuhan kita satu bulan mendatang. Dengan begitu, kita bisa memilih kebutuhan mana yang harus diprioritaskan, sehingga tak memotong anggaran untuk belanja. Setelah sebulan berlalu, ada baiknya pengeluaran dari awal bulan dicatat, sehingga kita tahu mana belanja kita yang banyak menguras isi kantong.

  1. Disiplin

Hal ini yang terpenting daripada semuanya. Saat kita telah mencatat kebutuhan kita untuk berbelanja, fokus pada catatan tersebut dan jangan tergoda untuk mengambil produk di luar catatan kita. Begitupun dengan uang yang telah kita kelompok-kelompokan sebagai tabungan dan investasi.

 

 

Strategi Berfikir Kreatif

Semakin ketatnya persaingan, semakin kita dituntut untuk menjadi unik dan berbeda dengan yang lainnya, kalau tidak mau kalah saing. Untuk itu, kita perlu memiliki daya pikir yang kreatif. Berpikir kreatif sendiri melibatkan pola pikir yang fleksibel, orisinil, elaboratif, asosiatif, dan banyak lagi. Namun, berpikir kreatif merupakan pola pikir yang dikembangkan, tidak terjadi begitu saja.

Mungkin kita kadang merasa kita mengeluarkan ide kreatif secara tiba-tiba, tapi sebenarnya proses terbentuknya ide itu tidak sebegitu mendadak. Hal ini terjadi karena adanya pikiran bawah sadar yang merekam ingatan yang mungkin tidak begitu penting, tetapi dapat muncul akibat dorongan kuat. Misalnya, kita menemukan sebuah ide desain gambar yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh kita, bisa saja gambar itu pernah kita secara sekilas. Karena merasa tidak penting, ingatan itu begitu saja ditekan ke pikiran bawah sadar.

Yang perlu dipahami adalah berpikir kreatif juga memiliki beberapa tahap. Yang pertama adalah tahap persiapan, yang berarti mengumpulkan berbagai ilmu dasar, seperti dari pelatihan atau pengalaman kerja, dan lain-lain. Dengan berbekal ilmu yang telah kita himpun untuk memecahkan masalah, kita perlu mengadakan penyelidikan (tahap investigation) tentang satu masalah yang terjadi. Tahap yang selanjutnya adalah melakukan transformasi (tahap transformation) terhadap masalah, yang dimaksudkan untuk melihat persamaan atau hubungan dari setiap peristiwa (convergent thinking) dan perbedaan dari masing-masing kejadian (divergent thinking) dengan cara mengevaluasi peristiwa tersebut.

Selanjutnya, kita dapat membiarkan pikiran bawah sadar bekerja untuk merenungkan informasi-informasi yang sudah dikumpulkan (tahap incubation). Perenungan ini nantinya akan memunculkan penerangan berupa ide-ide kreatif dan inovatif (tahap illumination). Ide-ide ini tentu perlu divalidasi apakah menjadi ide yang dapat diimplementasi pada masalah kita (tahap verification), lalu setelah ide tersebut terbukti efektif, maka kita tinggal menerapkannya pada masalah kita (tahap implementation).

Setelah mengetahui tahap-tahap ini, kita bisa mencoba mengasah diri untuk menelurkan ide-ide kreatif mengikuti tahap-tahap di atas. Tentu saja, kita dapat menerapkan strategi-strategi sebagai brainstorming untuk ide-ide kreatif yang dihasilkan. Misalkan, strategi Six Thinking Hats dari Edward de Bono, untuk mengasah cara berpikir yang membuat kita lebih mudah untuk mencari alternatif-alternatif ide baru dengan pola pikir yang berbeda-beda.