Category Archives: Financial Education

The Secret Formula for Real Financial Success

 

Part 1

Formula Financial Success 2022

 

Apa yang kamu lihat?

Uang = Biaya X Waktu ?   Atau

Waktu = Uang / Biaya ?

Sebagian dari kita menghabiskan waktu secara rutin melewati hari kerja sambil menunggu akhir pekan berikutnya datang, setelah akhir pekan baru memberi kita waktu untuk memilih bagaimana kita menghabiskan dan menikmati waktu kita. Bagi mereka yang bekerja untuk membayar tagihan, 71% dari hari minggu adalah momen untuk berhenti-“meresset” badan dan jiwa. Sebuah statistik yang menyedihkan. Seperti inilah kita menghabiskan seluruh hidup terjebak dalam skema ini.

 

Secara alami, kita mendekati kehidupan dengan pandangan bahwa uang adalah yang utama.

Maka menurut formula kehidupan Anda berada pada standar :

“Uang = Biaya x Waktu”

Dengan cara bekerja lebur, menambah shift akhir pekan atau mengejar jabatan yang lebih tinggi, maka uang lebih banyak datang namun diimbangi dengan biaya(cost) pribadi yang lebih besar: lebih banyak energi yang terkuras, lebih banyak peluang yang hilang, lebih banyak kewajiban yang harus dipenuhi – Selain lebih banyak waktu berkualitas yang diberikan. Secara keseluruhan, Sebagian dari hidup kita harus dikorbankan. Tapi itulah harga yang harus kita banyar untuk mendapatkan uang bukan?

Kami percaya bahwa untuk menjadi “ Lebih kaya” kami membutuhkan lebih banyak uang. Dan jika kita membutuhkan lebih banyak uang, kita harus siap untuk membayar “biaya” yang lebih tinggi dan memberikan lebih banyak waktu kita yang berharga. Seringnya yang kita kejar adalah promosi pekerjaan untuk meningkatkan penghasilan kita beberapa ribu ekstra seminggu. Hm.. dan mari kita tingkatkan juga jam lembur, pekerjaan di akhir pekan, tanggung jawab tambahan, dan tekanan-tekanan baru bersamanya! Uang lebih? Ya. Kehidupan lebih kaya? Hampir tidak.

Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak pernah melihat kenyataan sebaliknya. Dari kakek nenek, hingga orang tua kita, bahkan kita sendiri, hanya hal diatas inilah yang kita ketahui tentang pengalaman dalam hidup. Atau mingkin sebutan lain untuk mendekati The Money Game?

Uang vs Real Financial Success

Jelas ada hubungan antara memiliki lebih banyak uang dengan berpotensi mendapatkan nilai lebih dari kehidupan. Tapi, seperti yang kita semua tahu, kehidupan yang lebih kaya tidak pernah ditentukan oleh uang saja. Bagaimana dengan Biaya karena uang?

Uang datang dalam berbagai kondisi, dan untuk setiap rupiah dari nilai potensial yang kita peroleh pasti ada biaya pribadi yang terlibat seperti pajak, bunga, waktu, lelah dll. Jelas tidak semua Uang datang dengan biaya yang sama. Oleh karena itu, kesuksesan Real Financial tidak bisa hanya didasarkan pada menjadi jutawan atau miliader.

Seorang jutawan yang terjebak mengerjakan pekerjaan yang dibencinya selama 10 jam sehari jelas kurang berhasil dibandingkan jutawan yang bisa berhenti mengerjakan pekerjaan yang dibencinya 10 tahun yang lalu. Dan tentu saja! seorang Jutawan yang menghasilkan kekayaan dengan melakukan apa yang dia sukai benar-benar mendaparkan jackpot dalam hidup! Uang yang sama tetapi semua tingkat kesuksesan pribadi yang berbeda.

Bahkan jika Anda berhasil mengumpulkan ratusan juta untuk kebesaran nama Anda, uang ini memiliki nilai kecil jika Anda harus menghabiskan seluruh hidup Anda terjebak dalam kontrak  perusahaan dan Anda tidak bisa bernafas lega karenanya. Tumpukan besar uang ini tidak lebih dari setumpuk besar stres dan pengorbanan! Jadi, apa sebenarnya kesuksesan finansial itu? Ini tidak ditentukan oleh jumlah di rekening bank Anda atau mobil yang Anda kendarai, tetapi pada akhirnya oleh efek uang terhadap kualitas hidup Anda.

Oleh karena itu uang harus memiliki satu tujuan : Untuk menambah nilai positif dalam hidup kita. Jadi bagaimana kita bisa melihat keuangan kita mencerminkan apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup? Tujuan kami untuk masa depan bukanlah hanya fokus pada uang, tetapi fokus pada waktu. Tentu saja, dalam menilai waktu kita, uang memainkan peran penting.

Jadi apa hubungan antara uang, waktu dan kesuksesan Real Financial?

Real Financial Success adalah memiliki uang dan gaya hidup untuk menghabiskan lebih banyak waktu melakukan apa yang benar-benar Anda inginkan, serta menghabiskan lebih sedikit waktu untuk terjebak dan memperebutkan uang untuk membayar semua biaya pribadi yang sering menyertainya.

Namun, mengapa begitu banyak dari kita mengejar uang tanpa pernah merasakan kebebasan dan kepuasan yang lebih besar? Karena kesuksesan Real Financial hanya mungkin bagi mereka yang memiliki perspektif hidup yang sama sekali berbeda! Apa perspektif ini?

“Waktu = Uang/Biaya”

Untuk mengubah keuangan dan gaya hidup masa depan kita menjadi lebih baik, itu dimulai dengan mengambil formula standar hidup: Waktu = Uang/Biaya. Seperti yang Anda lihat, nilai waktu Anda sama dengan uang Anda dibagi dengan biaya hidup Anda. Dengan sedikit uang, nilai waktu Anda jelas menderita. Dan ketika menghasilkan lebih banyak uang dengan biaya pribadi yang jauh lebih tinggi, hidup Anda juga tidak menjadi lebih baik!  Namun, ketika kita mendekati kehidupan dengan tujuan untuk meningkatkan uang kita dan menurunkan biaya kita, apa yang Anda dapatkan? Waktu yang lebih berharga!

“Orang kaya berinvestasi dalam waktu. Orang miskin berinvestasi dalam uang” – Warren Buffet

 

Bagaimana caranya : bisa Anda temukan dalam Part 2

Apakah itu adalah kebutuhan ataukah hanya keinginan?

Manusia pada dasarnya adalah makhluk konsumtif yang memerlukan berbagai hal untuk melangsungkan hidupnya, oleh karena itu manusia bekerja dengan tujuan untuk mencukupi ‘kebutuhan’ dan untuk keberlangsungan hidupnya. Dan jika kebutuhannya itu tidak tercukupi maka hidup mereka akan berdampak buruk, contoh manusia membutuhkan kebutuhan dasar seperti Sandang, pangan, papan atau pakaiaan, makanan, dan rumah. jika dari salah satu kebutuhan dasar manusia ini belum tercukupi maka dia akan merasa sakit dan efeknya akan berdampak buruk.

Namun ingat manusia juga memiliki ego, ego pada dasarnya mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan. Ego ini juga yang mempengaruhi manusia dalam menentukan ‘keinginan’ mereka. Lalu apa itu Keinginan itu? keinginan adalah hasrat manusia terhadap suatu hal, tidak mendesak dan bisa ditunda karena berupa hasrat untuk memuaskan keinginan manusia dan jika tidak dipenuhi tidak akan membuat dampak kepada manusia.

Namun jika keinginan itu tidak berdampak dalam hidup kita kenapa sulit sekali untuk mengatur antara kebutuhan dan keinginan kita. Jawabannya ada pada ego kita. Ego manusia menuntut untuk mendapatkan apa yang kita inginkan sehingga bisa menghasilkan kepuasan tersendiri, namun jika tidak berhasil didapatkan maka hidup akan terasa tidak nyaman. Kepuasan ini yang mendorong manusia untuk mendapatkan keinginan-keinginan mereka.

Contohnya ada seorang pria kantoran yang setiap harinya harus berangkat dan pulang kerja dengan kendaraan umum. Karena rumahnya adalah perumahan yang tidak dilewati kendaraan umum. Setiap hari pria itu harus menyewa ojek hanya untuk mengantarkannya ke halte terdekat. Lama kelamaan ojek yang biasa mangkal dekat rumah berkurang dan karena itu pria itu terlambat ke kantor. Padahal hari itu adalah hari yang penting. Karena kejadian itu dia berpikir untuk membeli motor untuk menunjang aktifitasnya dan kebetulan bonus dari perusahaan turun dan tabungan selama bekerja sudah semakin banyak. Maka pria itu segera bergegas ke dealer motor untuk memilik motor apa yang akan dia beli. Sesampainya di dealer itu, dia jadi kebingungan untuk memilih berbagai macam jenis motor yang berderet di dealer itu dan tertarik dengan motor sport disana dan kemudian dia membelinya. Alhasil tabungan pria itu langsung habis setelah membeli motor tersebut padahal jika dia membeli motor biasa maka pasti dia akan memiliki sisa dari tabungannya.

Bergayalah sesuai isi dompetmu. Yang beneran punya, nggak akan banyak bicara seperti mereka yang berlagak sok punya, – Bob Sadino

Jika kita melihat contoh kasus diatas maka pria itu membeli motor berdasarkan keinginan bukan dari kebutuhan. Pria itu sebenarnya hanya membutuhkan motor untuk menunjang aktifitasnya, bukan motor yang memiliki brand terkenal, tipe terbaru atau motor yang gagah bentuknya. Dari awalnya sebuah kebutuhan karena peran ego berubah menjadi keinginan saat akan membeli barang. saat pria itu membutuhkan motor, dia berusaha mendapatkan kepuasan lebih dengan membeli motor sport walaupun harganya jauh lebih mahal dan menghabiskan tabungannya.

Kita perlu skill unuk mengatur antara kebutuhan dan keinginan. berikut beberapa hal penting yang bisa kamu lakukan : Pertama lihat keadaan finansial kamu sekarang cukup atau malah jadi pemborosan. Kedua, pahami apa yang menjadi prioritas kamu dan rencana masa depan kamu, jika tidak menggangu keduanya ya tidak masalah, hak kamu. ketiga kendalikan ego, karena ego manusia itu begitu kuat dan terkadang sulit untuk dikendalikan.

Sebenarnya sah-sah saja untuk mengikuti keinginan ego kita. Keinginan juga tidak selalu berakibat buruk, terkadang kita mendapatkan memotivasi diri dengan bekerja lebih giat dan meningkatkan penghasilan kita dengan tujuan untuk mencukupi keinginan kita. Namun ada yang harus kamu perhatikan dari contoh diatas, ketika kita mengikuti keinginan kita, ingat untuk selalu mempertimbangkan hal ini terlebih dahulu : “jika kita mengikuti keinginan tersebut apakah berdampak buruk pada kehidupan selanjutnya.” Jika berdampak buruk ada baiknya untuk tidak dilakukan. Seperti contoh pada pria yang membeli motor, daripada membembeli motor biasa dia memilih untuk membeli motor sport sehingga berdampak kepada keuangannya yang kelak akan menjadi masalah. Kamu harus ingat dengan bertambahnya umur seseorang semakin bertambah pula kebutuhan mereka.

Pantas Anda tidak kaya, Pemahaman yang keliru tentang uang

Pasangan yang hemat adam dan hawa, keduanya seorang pedagang yang ulet, buka paling pagi tutup paling malam dengan pelayanan terbaik. Suami istri itu hidupnya sangat hemat sekali. Mereka berdua orang yang sangat ulet, sangat giat berdagang. 10 tahun kemudian karena ketrampilan istrinya mengelola keuangan mereka sudah memiliki deposito hingga 30M. Mereka hidup sangat berhemat, beli baju 3x setahun, tidak ikut arisan, tidak beli tas bermerek. Fokus kerja dan kerja, pulang untuk istirahat saja. Usia 45 hawa kena serangan jantung, kemudian meninggal dunia. Uang yang dikumpulkan hingga 45M. Belum setahun adam kawin dengan pelayan tokonya. Dan setelah menikah dengan istri mudanya pak adam baru bisa menikmatihidup. Dan apa yang dikatakan istri mudanya “saya kira saya bekerja untuk bu Hawa, ternyata bu Hawa yang kerja buat saya”.

  1. Jaga kesehatan
  2. Rawat dan percantik diri
  3. Pakai pakaiaan yang pantas
  4. Pakai pakaiaan yang baik
  5. Berlibur dengan keluarga
  6. Berteman dengan banyak teman yang baik
  7. Besedekah dan menggunakan uang untuk tujuan yang baik

 

Kisah ini ada yang mengalami

7 pemahaman keliru tentang uang

  1. Uang tidak dibawa mati. Salah. Dikatakan ulama, orang tua, dan yang gak punya uang dll sebagai “pembenaran”. Teori ini kurang tepat saja, uang memang tidak di bawa mati tapi ada baiknya mati jangan menyusahkan orang lain. Uang tidak dibawa mati ini dijadikan doktrin dan di ulang terus.
  2. Uang tidak bisa membeli kasih sayang. Salah. Semua butuh ongkos – uang. Kasih sayang bisa melayang kalu tidak punya uang. Untuk hidup berkeluarga butuh uang. Beli susu pakai uang
  3. Uang tidak bisa beli tidur nyenyak. Salah. Tidak ada uang yang bikin tidur tidak nyenyak
  4. Uang tidak bisa membeli kesehatan. Salah. Makan sehat butuh uang, gym tidak gratis.
  5. Uang tidak bisa beli kebijasanaan. Salah. Untuk dapat ilmu yang baik butuh uang, sekolah butuh uang. Internet butuh uang.
  6. Orang bodoh nampak pintar kalo nampak uang. Salah. Yang benar Orang cerdik jadi bodoh kalo tidak ada uang. Mau kemana mana perlu uang mau jalan butuh uang karena tidak ada uang jadi tidak bisa kemanapun.
  7. Uang bukan segala galanya. Namun tempat ibadah di bangun pakai uang, sedekah perlu uang. Uang bukan segala galanya. Tapi segala galanya butuh uang. Tergantung siapa yang bilang kalau orang kaya berarti dia mencari bahagia selain uang. Uang baginya bukan masalah. Jika yang bilang orang utang? Uang saja masih masalah buat dia, untuk pembenaran, tidak pantas.

3 Cara keluar dari kemiskinan

Menurut BPS Maret 2018 9,82% (tidak tinggi) – Miskin > Sandang, Pangan Papan,  Penduduk kira-kira 25,6 Juta di Indonesia

Miskin = Kondisi Angka. (mindset)

Tergantung pada dirimu berapa angka miskin mu. Apakah punya 1M kaya? Atau tidak punya 1M miskin? Tergantung dirimu.

Ada kata Cukup dalam teori miskin ini.

(Mana yang kaya?)

Orang gaji 1 Juta nabung 100rb lebih baik daripada orang gaji 10Jt minus 1Jt.

Harus ada tabungan , Hati hati dengan sistem mencicl. Beli semua dengan mencicil belum lunas cicil yang baru

  • Bedakan antara kebutuhan dan keinginan

kebutuhan (sandang pangan papan jika ini cukup “selesai” jangan ada pengeluaran lagi maka anda bisa nabung)

  • Tidak pernah ada kata cukup = mengejar keinginan – Keinginan banyaak tidak ada habisnya
  1. Hidup dari apa kata orang. Masalah mindset tetangga hp baru note 9 punya kamu baru note 8, beli karena gak mau kalah padahal cicilan note 8 masih ada.

Jika ini yang terjadi. Lebih baik tidak bergaul, yang nanggung beban adalah keluarga anda

  1. Catat pengeluaran. Catat dari parkiran 2rb. Kebanyakan orang nyepelekan, setiap hari. Gunakan catatan untuk kurangi pengeluaran dan berapa yang disisihkan
  2. Pelajari cara kerja uang. Kaya itu masalah angka dan rasa sebab ada orang yang merasa miskin padahal punya rumah, mobil tidak ada cicilan. Tapi merasa miskin. Terjadi semua status kalangan.

Yang repot ada orang miskin merasa kaya. Padahal minus tapi belanja seperti orang kaya

4 kesalahan fatal yang membuat anda miskin

  1. Berharap – berharap pada suatu yang tidak pasti . berharap pada sesuatu yang pasti terjadi. berharap dan meletakan harapan, kendali ditangan orang lain bukan pada diri mu sendiri. contoh ada hutang tapi berharap hutang lunas dengan berhutang pada orang/bank.

Yang benar bagaimana berharap itu sama dengan meminta. Jika bisa kamu memberi.

2. Tidak bisa – hapus kata ini, yang betul belum bisa. Contoh “pak saya tidak bisa cicil motor ini”. Maka selamanya anda tidak akan bisa cicil motor, anda sudah menghakimi diri sendiri anda tidak bisa – anda menutup diri, coba kata baru ini “Pak saya belum bisa cicil motor” artinya dalam mindset kamu hanya sekarang belum bisa cicil nanti pasti bisa cicil bukan?.

Apa yang anda katakan menjadi doa, membuat mindset kaya atau tidak.

3. Saya takut mencoba – segala sesuatu tidak akan berubah, tidak bisa terjadi. jika anda tidak mencoba. Contoh tidak bisa berenang. Anda mengatakan jika anda tidak bisa berenang tapi masuk kolam saja belum pernah. Yang benar saya mau mencoba bukan takut mencoba. Yang penting jangan takut mencoba.

4. Mana mungkin/ tidak mungkin. – kata sederhana yang mudah diucapakan dan akibatnya adalah menghancurkan dirimu. Yang benar adalah teriakan dengan kencang “Saya Bisa!”

Kaya Beneran atau Kaya Abal Abal

Berikut cara untuk membedakannya

  1. Orang kaya sungguhan punya strategi dalam pengeluaran. Orang kaya abal abal asal beli tanpa peduli akhir bulan makan apa. hal yang membedakan antara kaya dan miskin adalah Gaji yang di peroleh akan dihabiskan dengan cara apa. orang kaya akan menunda kesenangan sedang orang kaya abal-abal akan membelanjakan gajinya untuk sesuatu yang diinginkan. orang yang bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan termasuk dalam mental orang kaya. Ia pandai memilih mana godaan mana yang benar kebutuhan, sehingga pa yang nanti keluar bukan hanya sekedar pemuas nafsu belaka.
  2. Bagi yang kaya bohongan gaji segitu gitu aja sudah cukup. Tapi yang kaya betulan justru tidak akan berpuas diri. Bagi orang kaya abal-abal jabatan dan gaji yang diperoleh adalah puncak dari segala sesuatu. namun bagi orang kaya mereka berpikir akan lebih baik jika dapat menggaji orang lain, bukannya menunggu gaji dari atasan. Orang kaya akan berpikir untuk terus meningkatkan apa yang sudah dicapai saat ini, terus berusaha mengembangkan usahanya dan belajar meningkatkan kemampuannya.
  3. Bagi yang kaya uang bukan alat untuk mendulang pujian. Sedang yang kaya abal abal berusaha terlihat kaya utuk mendapat pujian. Ingin terlihat glamur adalah ciri khas dari orang kaya abal-abal, kemampuan financialnya belum sampai tahap itu justru menyiksa dompet untuk mendapatkannya. Kendalikan dirimu, jika anda bisa menahan diri selamat nada adalah calon orang kaya.
  4. Bagi yang kaya dia memprioritaskan kenyamana dan prospek masa depan dalam bekerja tidak hanya gaji semata. Orang kaya abal-abal justru memilih gengsi dalam memilih pekerjaan. Takut dilihat tidak keren, akhirnya berbelanja diluar kapasitas itu adalah mental miskin. Jika anda termasuk orang kaya beneran gengsi adalah hal yang harus anda singkirkan. Tekun dalam melakukan sesuatu, Lakukan pekerjaan apa saja selama menghasilkan dan baik serta bukan hal salah, pasti bisa mencapai puncak karirnya.
  5. Orang yang kaya abal-abal akan menghalalkan cara apapun untuk terlihat hidup seperti konglomerat. Ingin terlihat kaya dengan mobil mewah gadget terkini tapi dengan cara hutang bahkan sampai pinjam milik orang. Bagaimana denga orang kaya mereka akan memilih untuk memeras otak dengan mendapatkan passive income jadi mereka tidak punya uang untuk tampil mewah, semua uangnya digunakan untuk investasi.

 

Jadi inilah 5 perbedaan pola pikir orang kaya beneran dengan abal-abal adaptasikan pola pikir kaya beneran kedalam pikiran anda, orang kaya akan memikirkan peluang, investasi. Sedang abal-abal akan memikirkan masalah sehingga melewatkan peluang.

Seni Orang Kaya dalam Menghasilkan “Uang”.

Dalam artikel sebelumnya sudah dibahas bagaimana perbedaan mental orang miskin dengan orang kaya. Dalam artikel ini akan dibahas bagaimana kebiasaan orang kaya menghasilkan uang dibanding orang miskin.

Mencari uang = mencari Nilai = mencari sesuatu yang di butuhkan orang.

Perhatikan orang kaya dibutuhkan karena bukan karena mereka memiliki banyak uang tapi karena mereka memiliki nilai yang di perlukan banyak orang. Contoh Youtube. Dahulu tidak perlu namanya konten berbagi Video seperti Youtube. Sudah ada TV orang tidak membutuhkan hiburan yang lain. Tapi mereka yang membuat Youtube membuat layanan ini menghasilkan uang, menghasilkan popularitas, dan hingga gengsi dimata orang lain. Membuat rencana dimana Youtube memiliki nilai bagi orang lain. Dan buktinya sekarang orang orang menonton youtube dan meninggalkan TV.

Ini bukan tentang seberapa banyak uangnya, tetapi tentang kebutuhan dan nilai.

Jangan lakukan usaha yang tidak dibutuhkan orang, walaupun itu passion Anda. Jika perlu pelajari passion baru yang di butuhkan orang saat ini.

Fokus pada kelebihan Anda, berbeda dengan passion/kesenangan. Disini kita berbicara tentang kompetisi, jika memang kamu punya kelebihan yang unik dibandingkan yang lainnya kembangkan dan fokus pada kelebihanmu. Pelajari apa kelebihan Anda dan gunakan untuk menyerang kekurangan lawan. Ingat dalam hal positif ya.

Untuk mengetahui di butuhkan atau tidaknya apa yang Anda tawarkan kepada orang lain, coba jawab beberapa hal sederhana berikut.

  • Apa kelebihan yang saya tawarkan?
  • Mengapa orang lain membutuhkan saya?
  • Jika tidak, bagaimana caranya menjadi butuh?

Kuncinya adalah temukan kelebihan Anda dan buat orang lain membutuhkan kelebihan tersebut (membutuhkan Anda). Jika memang kelebihan tersebut tidak membawa hasil, maka carilah kelebihan yang lain atau kombinasikan dengan apapun yang Anda miliki. Semua orang memiliki lebih dari 1 kelebihan dalam dirinya, karena itu selalu ada kesempatan jika Anda terus belajar dan mencari.

Masih merasa tidak mampu untuk berkompetisi?

Itu artinya kamu masih punya mental miskin. Kita hidup di dunia yang selalu berkompetisi. Jangan hindari kompetisi karena kompetisi adalah sesuatu yang baik.

Kenapa Orang yang Kaya Makin Kaya sedang Yang Miskin Makin Miskin

Dalam suatu penelitian yang dilakukan pada tahun 2005, dibuatlah film dokumenter yang meneritakan tentang bagaimana jika seorang gelandangan diberikan uang $100.000 (sekitar 1,4 milyar rupiah) dan dibiarkan melakukan apapun yang dia inginkan.

Dan hasilnya ternyata dalam waktu 6 bulan setelahnya. Dia kehabisan semua uangnya dan kembali ke tempatnya yang sama seperti semula.

Mangapa hal ini bisa terjadi?

Hal ini terjadi karena orang miskin tidak bisa atur uang.

Dalam pola pikir orang miskin mereka memiliki pemahaman : Orang Kaya = Punya banyak uang. Sehingga mereka menyalahkan keadaanya saat ini yang tidak punya banyak uang.

 

Orang miskin membuat keputusan bodoh

Fakta lainnya adalah orang miskin suka mengambil keputusan yang bodoh dan semakin menyakiti keadaan finansialnya, orang miskin sering terjerat narkoba dan obat-obatan, orang miskin sering merokok dan mabuk mabukan, orang miskin jarang menabung banyak alasan untuk menghabiskan uang, sering berhutang dan berjudi. Sedang mereka yang kaya ber investasi melalui pendidikan, bisnis, menambahkan aset dan memperluas koneksi.

Kenapa orang miskin melakukan tindakan tindakan seperti narkoba, rokok dan judi itu? Jawabannya karena mereka hanya berpikir secara jangka pendek. Ini adalah point utama mengapa orang miskin tetap menjadi miskin. Mental orang miskin hanya mencari sesuatu yang sifatnya instan dan praktis. Mereka lebih suka dengan keuntungan jangka pendek daripada berpikir muluk muluk terhadapa apa yang belum mereka pahami. Oleh karena nya orang miskin sangat mudah di tipu untuk mendapatkan uang dengan mudah dan cepat. Karena hanya berharap pada hal instan dan praktis.

Tidak punya uang itu keadaan yang sementara, tapi kemiskinan adalah mental

Masih ingat dengan pola pikir orang miskin : Orang Kaya = Punya banyak uang. Hal ini lah yang menjadi dasar kenapa orang miskin takut jika tidak punya uang.

Aset berharga yang dimiliki oleh orang miskin adalah waktu dan tenaga. Sayangnya aset ini dihabiskan untuk hal yang sia sia seperti khawatir dan terjebak dengan skema, rencana instan yang tidak menghasilkan apapun. Memang wajar jika orang miskin masih sering memikirkan “besok makan apa?” atau “bagaimana nasib saya besok?”. Tapi sayangnya rasa kawatir tidak pernah menyelesaikan masalah apapun. Dan yang lebih buruk uang tidak akan menyelesaikan masalah mereka jika mental ini masih ada.

Mental orang miskin hanya berpikir untuk mencari uang, uang , dan hanya uang. Tapi setelah mendapat uang mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk uang itu.

Cara menghabiskan uang lebih penting dari cara Anda memperolehnya.

Masih ingat dengan kasus gelandangan yang diberi uang dan masih menjadi gelandangan. Jika Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap uang yang Anda miliki Anda bisa berakhir seperti kasus gelandangan tersebut. Mereka tidak tahu bagaimana cara yang benar dalam menghabiskan uang.

Orang bermental miskin terjebak dengan jumlah uang, sehingga mereka melupakan apa yang betul-betul penting yaitu aset.

Sekarang kita belajar dari orang kaya. Orang bermental kaya akan berusaha untuk mencipakan nilai yang membuat dirinya bermanfaat sehingga orang lain akan rela untuk membayar dan mendapatkan nilai yang dia tawarkan.  Nilai inilah yang mengembalikan uang yang sudah dikeluarkan kembali berkali lipat. Mereka biasa untuk berpikir jangka panjang, sedang orang miskin berpikir jangka pendek. Orang miskin berpatok pada jumlah uang, orang kaya berpatok pada nilai yang dihasilkan dari uang.

Alasan utama mengapa orang miskin tetap miskin dan orang kaya semakin kaya adalah cara mereka berpikir (mental) dan cara mereka mencari uang (kebiasaan).