Kisah inspiratif dari Penulis Harry Potter, J.K Rowling

Bagi Anda yang senang membaca, atau menonton film, Anda tentu tahu kisah fiksi spektakuler Harry Potter. Buku ini telah terjual entah berapa juta kopi dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia internasional. Joanne Kathleen Rowling, atau dikenal dengan J.K.Rowling jadi penulis yang diakui namanya di seluruh dunia. Namun, tahukah Anda kisah J.K.Rowling sebenarnya?

Kemunculan Harry Potter sebagai “anak yang bertahan hidup” mungkin justru menggambarkan kenyataannya. Naskah Harry Potter diselesaikan dengan sebuah mesin tik manual yang sudah tua. Tahun 1995 itu, J.K.Rowling mencoba mengirimkan naskah tersebut. Namun, karyanya terus-menerus ditolak. Sebanyak 12 penerbit tidak tertarik untuk menghidupkan karakter Harry Potter. Hingga seorang anak perempuan berusia 8 tahun, yaitu Alice Newton, membaca bab pertama bukunya dan menuntut lanjutan buku itu kepada ayahnya, yang menjabat sebagai Kepala Penerbitan Bloomsbury. Oleh karena itu, penerbit Bloomsbury akhirnya memutuskan untuk menerbitkan naskah tersebut.

Pada tahun 1997, buku tentang Harry Potter menjadi sama terkenalnya dengan gambaran tokoh dalam buku tersebut, hingga menelurkan beberapa penghargaan. Dan Harry Potter menjadi tokoh yang lekat di hati banyak anak. Penggambarannya tentang karakter Harry Potter begitu nyata, sehingga menyentuh banyak pembacanya. Terutama, tentang kerinduan Harry akan kedua orang tuanya. Hal yang dirasakan J.K.Rowling sendiri ketika ibunya meninggal dunia saat ia tengah menulis Harry Potter and The Philosopher’s Stone.

Bagi para penulis, kisah tentang Harry Potter dan J.K.Rowling merupakan kisah yang dapat menginspirasi tentang bagaimana wanita tersebut tidak pernah menyerah dalam mempersembahkan karakter Harry Potter ke tengah masyarakat. Memang, pada awalnya, jarang ada penulis yang bisa langsung menembus ketatnya persaingan dalam dunia tulis-menulis. Bahkan, Stephen King yang sangat terkenal dengan karyanya, sempat berpuluh-puluh kali ditolak karyanya.

Menulis adalah keahlian semua orang, rasanya pernyataan itu cukup tepat. Walaupun tidak semua orang suka menulis, setidaknya semua orang pernah menulis. Oleh karena itu, orang-orang yang memutuskan untuk jadi penulis bisa dibilang sangat banyak, walaupun tidak semua akan bertahan hidup dalam profesi kepenulisan. Namun, bukan berarti Anda harus putus harapan.

Tidak hanya dalam dunia kepenulisan, dalam setiap usaha yang Anda lakukan, Anda tidak bisa terus berhenti berusaha. Dalam bisnis, misalkan. Kalau mau sukses, Anda harus bertahan seberapapun beratnya, sembari mencari solusi untuk mengatasi masalah dalam usaha Anda. Anda bisa lihat pengusaha sukses adalah pengusaha yang tak pernah menutup perusahaannya sekalipun, dalam kondisi apapun.

 

Pengetahuan Tidak Ada Gunanya Jika Tidak Dipraktekkan

Apakah Anda ingat pelajaran Anda semasa SD, SMP, atau SMA? Tentu saja, Anda ingat beberapa hal, tetapi beberapa hal yang lainnya juga menguap dari kepala Anda. Kalaupun ada yang teringat, mungkin beberapa hal yang masih sering menjadi bahan perbincangan di sekitar Anda atau terkait dengan pekerjaan Anda. Misalkan Anda seorang akuntan, maka Anda masih mengingat ilmu yang Anda dapat tentang Buku Besar saat Anda di SMA.

Salah satu psikolog kognitif, yaitu Thorndike, mengemukakan dua hukum dalam pendidikan, yaitu law of use dan law of disuse. Intinya, sederhana saja, ilmu pengetahuan akan melekat pada pikiran Anda apabila Anda selalu menggunakannya. Sebaliknya, akan terlupakan apabila tidak digunakan.

Seluas apapun ilmu pengetahuan Anda, semua itu akan percuma apabila Anda enggan mempraktekkannya. Contoh yang paling aplikatif mengenai pernyataan ini adalah bahasa. Anda mungkin memperoleh nilai sempurna di kelas Bahasa Inggris Anda, tetapi dalam pekerjaan Anda, atau dalam pergaulan, Anda tidak pernah menggunakannya. Pada akhirnya, saat Anda disuruh maju untuk presentasi dalam Bahasa Inggris, Anda akan tergagap.

Beda hal dengan orang yang sama sekali tidak pernah mempelajari Bahasa Inggris, tetapi tiba-tiba karena suatu keadaan, harus pindah ke negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai Bahasa Utama. Apa yang terjadi? Secara terpaksa, orang itu akan menggunakan Bahasa Inggris sehari-hari dan dengan begitu saja akan lancar berbahasa Inggris. Bahkan, kadang lebih cepat mempelajarinya daripada seseorang yang menjalani kursus atau kuliah di bidang Bahasa Inggris.

Memang pada dasarnya, tidak semua ilmu pengetahuan yang diperlukan dalam menjalani kehidupan nyata, seperti pekerjaan sehari-hari. Melainkan, bidang pengetahuan yang khusus dimana Anda menjadi praktisi di dalamnya. Namun, kadangkala, memiliki wawasan yang luas menjadi salah satu nilai tambah dalam pekerjaan Anda. Walaupun Anda seorang psikolog, misalnya, tetapi Anda harus mengetahui ilmu lain, seperti ilmu kedokteran dasar atau farmakologi khusus di bidang penyakit kejiwaan, atau ilmu sosiologi dasar untuk mendukung Anda dalam mengambil kesimpulan tentang klien Anda.

Bisa dibilang agak sulit untuk mempertahankan pengetahuan yang jarang dipraktekkan sehari-hari, akan tetapi selalu ada jalan untuk itu. Anda dapat melakukan diskusi secara berkala dengan kolega Anda, misalnya. Atau Anda bisa mengikuti grup di media sosial yang bertema profesi Anda atau bidang pengetahuan yang Anda ingin perdalam, lalu turut berperan aktif dalam pertukaran informasi di dalamnya. Cukup mudah, bukan?

Pentingnya Latihan Bagi Kemampuan Anda

Ketika Anda kecil, mungkin Anda telah menunjukkan beberapa bakat alamiah. Beberapa anak suka menyanyi, beberapa anak suka menggambar, dan lain-lain. Bakat ini biasanya didorong oleh minat anak, yang merupakan salah satu proses belajar, yaitu mengimitasi orang tua. Seringkali anak mengidentifikasi minat orang tua dan menyerapnya sebagai minat pribadi. Namun, semua itu tetap tergantung bagaimana cara orang tua memfasilitasi bakat dan minat anak untuk berkembang.

Bakat, walaupun terjadi secara alamiah, membutuhkan fasilitas dan latihan untuk berkembang secara maksimal. Saat anak menunjukkan minat tertentu, penting bagi orang tua untuk memfasilitasi. Misal, anak suka menggambar, maka orang tua menyediakan kertas dan pensil warna, lalu mendorong anak untuk berlatih menggambar. Bakat sama dengan potensi, artinya suatu kemampuan yang mentah dan belum terasah. Lain lagi dengan kompetensi atau keahlian, yaitu hasil dari bakat yang telah dilatih.

Pada tahun 2008, Malcolm Gladwell menuliskan sebuah buku yang bertitel The Outliers. Di buku ini, ia mengungkapkan teori tentang 10.000 jam, dimana orang-orang sukses semuanya tercatat telah melatih diri mereka tidak pernah kurang 10.000 jam.

Penelitian tentang ini sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum buku ini keluar, yaitu pada tahun 1990-an, Psikolog K.Anders Ericsson dan dua rekannya meneliti sebuah akademi musik di Berlin. Hasil penelitiannya menunjukkan para pemain elit telah menghabiskan waktu berlatih selama 10.000 jam, sedangkan siswa biasa berlatih selama 4.000 jam dan calon guru musik menghabiskan waktu 8.000 jam selama hidupnya dalam berlatih alat musik. Tidak hanya itu, orang-orang sukses, seperti Mozart, Bill Gates, The Beatles juga tercatat telah menghabiskan waktu berlatih tidak kurang dari 10.000 jam.

Hal ini menunjukkan bahwa latihan sangat penting dalam mengasah potensi dalam diri Anda. Tentu saja, tidak hanya ukuran jam saja yang paling penting, tetapi konsistensi melakukan hal itu setiap hari dan terus mengulang-ulang pelatihan yang tengah Anda lakukan, dengan begitu tubuh Anda dengan sendirinya akan terbiasa dengan pola latihan.

Namun, perlu juga diingat bahwa latihan Anda perlu dikembangkan. Apabila Anda ingin berlatih alat musik, pertama-tama Anda bisa memulai dari not-not tunggal yang mudah diterapkan dalam alat musik. Lalu, setelah menguasainya, Anda bisa beralih pada lagu yang memiliki not-not yang beragam. Lalu, beranjak ke musik yang lebih kompleks, dan seterusnya. Sejalan dengan itu, Anda akan menemukan hal-hal baru dan tantangan-tantangan baru untuk dipenuhi, sehingga Anda akan terus berkembang.

 

Pentingnya Memaafkan Untuk Mendapatkan Hal Yang Lebih

Semua orang tentu pernah merasakan sakit hati. Entah saat bertengkar dengan keluarga, dalam hubungan romantis, atau dalam pekerjaan dengan rekan kerja atau atasan. Hal itu membentuk situasi yang bersifat negatif antara kedua pihak tersebut. Situasi yang negatif tersebut kadang tidak hanya terbatas pada kedua pihak ini, tapi kerap mempengaruhi orang-orang di sekitarnya.

Di lain pihak, situasi yang membuat Anda sakit hati seringkali membuat Anda susah untuk memandang masa depan dengan lebih baik. Kalau istilah gaul zaman sekarang adalah ‘susah move on.’ Misalnya, Anda menemui kegagalan dalam bisnis Anda sebelumnya karena kesalahan yang Anda lakukan, sehingga Anda terus memfokuskan pikiran Anda pada penyesalan atas sikap Anda terdahulu.

Jadi, metode memaafkan itu memiliki dua cara.

  1. Memaafkan diri sendiri

Seringkali, pada saat ada yang salah, Anda kerap menyalahkan diri sendiri. Seperti juga pada kasus bisnis yang gagal. Saat Anda mulai menyalahkan diri sendiri, akan sulit untuk bangkit dan memulai kesempatan baru karena Anda masih saja terfokus pada masa lalu. Pikiran yang terfokus atau terbagi-bagi tentunya akan membuat Anda sulit untuk menjalankan masa kini dengan sepenuhnya. Bisa jadi, Anda akan takut untuk mengambil keputusan lagi.

Maka dari itu, memaafkan diri sendiri jadi sangat penting. Kesalahan adalah manusiawi, malah kesempatan melakukan salah merupakan kesempatan untuk mempelajari masalah itu sendiri. Pelan-pelan, Anda bisa yakinkan diri Anda bahwa kesalahan Anda adalah wajar, tentu saja dengan memastikan hal itu tidak terulang, lalu pelan-pelan belajar dari kesalahan Anda. Dengan begitu, pikiran Anda akan terfokus pada hari ini, sehingga akan banyak peluang yang bisa Anda dapatkan dengan fokus yang tak terbagi itu.

  1. Memaafkan orang lain

Berselisih dengan kolega atau atasan, seperti salah satu contoh kasus di atas, membuat Anda sulit untuk bekerja sama dengan kolega atau atasan Anda tersebut. Hal ini bisa saja menurunkan kinerja dan produktivitas Anda dalam bekerja. Ini akan merugikan Anda. Maka, penting untuk memaafkan siapapun yang tengah berselisih dengan Anda.

Tidak salah anggapan bahwa siapa yang lebih dulu meminta maaf justru akan memperoleh kemenangan. Oleh karena sikap memaafkan memberikan perasaan yang lebih tenang dan lega, sehingga akan tercipta persepsi yang positif. Persepsi yang positif ini akan membangun kondisi kerja yang positif pula.  Produktivitas Anda bisa meningkat karena Anda bekerja dengan pikiran dan perasaan yang positif.

Selain itu, apabila Anda membangun kondisi kerja yang positif, semua orang akan tergerak dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih kondusif, sehingga pekerjaan Anda akan jauh lebih lancar.

 

 

 

 

 

 

 

Ini Rahasia Keberutungan Yang Wajib Anda Ketahui

Apakah Anda pernah merasa keberuntungan menjauhi Anda? Atau Anda merasa dalam hidup Anda, kesialan selalu menghantui? Mungkin Anda lebih baik mencoba mengubah pola pikir Anda. Bisa dibilang, tidak ada kata kebetulan di dunia ini. Bahkan, saat Anda bertemu seseorang yang baru di suatu tempat, hal itu tidak bisa dibilang sebagai kebetulan. Ada hukum kausalitas yang mendorong Anda berdua agar sampai di tempat yang sama. Walaupun, kadang hukum kausalitas tidak semuanya bisa kita amati.

Misalkan, Anda bertemu dengan seseorang di kereta. Anda mengarah ke tempat kerja Anda. Tentu saja, Anda menaiki kereta di jadwal yang sama seperti biasa dan walaupun Anda tidak mengetahuinya, orang yang Anda temui akan memiliki rutinitas yang sama dengan Anda. Namun, rutinitas itu dibangun secara sengaja oleh Anda dan orang tersebut, dan apabila Anda bisa memperhitungkan rutinitas atau pola dari suatu rutinitasnya, Anda akan bisa memprediksi peluang Anda bertemu dalam satu gerbong. Mirip dengan kisah John Nash, di film A Beautiful Mind, yang mencoba memprediksi pola gerakan burung Merpati dengan perhitungan matematis.

Sama halnya dengan keberuntungan. Orang bisa merendah dengan mengatakan ‘cuma lagi beruntung saja,’ tetapi keberuntungan tidak bekerja begitu saja. Sama halnya dengan ‘kebetulan,’ ada teknik-teknik yang bisa Anda lakukan agar keberuntungan selalu berpihak pada Anda.

  1. Mengubah persepsi

Lagi-lagi persepsi. Ya, memang persepsi memainkan peran penting dalam semua kesempatan dalam hidup. Kalau Anda memiliki persepsi positif dalam hidup Anda, apapun yang ada di hadapan Anda, akan menunjukkan peluang dan hikmahnya sendiri. Saat Anda dipecat, Anda mungkin akan terdorong untuk berbisnis dan menjadi jauh lebih menghasilkan daripada Anda sebagai karyawan.

  1. Memprediksikan pola

Anda tidak perlu menjadi sepintar John Nash untuk memprediksikan suatu pola. Dengan memahami dasar dari hukum kausalitas saja, Anda akan bisa melihat pergerakan satu pola. Misalkan, Anda seorang peneliti yang membutuhkan sponsor yang sulit untuk didekati. Anda bisa mengecek jadwal orang yang punya pengaruh dalam memberikan donasi, lalu merancang ‘keberuntungan’ itu untuk berpapasan pada saat jeda waktunya untuk membuat temu janji.

  1. Menunjukkan kualitas Anda

Sementara, kesempatan datang karena tumbukan-tumbukan dari pola gerakan masing-masing orang, salah satu yang paling penting justru berasal dari diri sendiri. Orang yang memiliki sejumlah modal tidak akan mau menginvestasikan uang mereka pada orang yang mereka tidak percayai. Oleh karena itu, Anda bisa meraih keberuntungan Anda dengan menunjukkan keahlian Anda. Tentu saja, kemampuan persuasi akan memberikan suatu keberuntungan sendiri.

 

 

 

 

Tips Sukses Dengan Menciptakan Peluang

Seorang penulis tidak akan bisa hidup dengan inspirasinya. Kalau inspirasi hilang, maka karyanya tidak akan tercipta dan hidupnya tak akan berjalan dengan tinta kering. Beberapa penulis menyatakan bahwa inspirasi hanya bisa datang sendiri, tetapi waktu tidak akan menunggu penulis, bukan? Maka, akhirnya terbentuklah satu frasa terkenal di kalangan penulis, yaitu ‘mencari inspirasi.’ Tentu saja hal ini diartikan sebagai ungkapan, karena inspirasi sesungguhnya ide yang ada di dalam kepala penulis sendiri, tetapi emosi yang ada dalam diri seringkali menghambat otak untuk mengucurkan ide-idenya.

Begitu juga dengan peluang. Seperti halnya inspirasi, peluang sebenarnya ada dalam persepsi kita. Peluang bisa terjadi hanya apabila kita bisa memanfaatkan banyak hal-hal di sekitar kita menjadi peluang-peluang bisnis. Artinya, bukan peluang yang menghampiri kita dan memberikan manfaatnya, tetapi kita sendiri yang menciptakan peluang tersebut.

Memang, ada kalanya kita merasakan bahwa peluang tidak pernah sampai kepada kita. Sementara orang memperoleh peluang, seperti modal untuk memulai bisnis atau rekan kerja yang mempunyai keahlian yang bisa dimanfaatkan, dan lainnya, peluang itu tidak pernah bisa kita peroleh. Namun, peluang-peluang ini menjadi peluang hanya karena orang yang menerima mempersepsikannya sebagai peluang.

Misalkan, seseorang yang tiba-tiba mendapatkan penawaran sebuah modal untuk memulai bisnis. Apakah itu peluang? Ya, kalau orang yang ditawarkan segera memutar otak mencari bisnis apa yang dapat dimajukan dengan jumlah modal yang ditawarkan. Sebaliknya, hal itu bukan peluang apabila orang tersebut takut untuk menerima dan berhutang kepada pemodal tersebut, sehingga menolak untuk berbisnis dengan uang itu. Kira-kira begitu ilustrasi sebuah peristiwa bisa menjadi peluang atau tidak.

Mari kita anggap bahwa hal itu terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Kita tidak memiliki modal, tidak pula memiliki lahan atau keahlian untuk memulai bisnis. Apakah itu artinya kita tidak berpeluang? Sama sekali salah, karena peluang selalu bisa dicari di setiap peristiwa. Misalkan, kita tidak memiliki keahlian dalam bisnis, kita bisa mencarinya lewat media sosial, seperti Facebook atau LinkedIn, yang khusus mewadahi para pekerja. Saat kita menemukan orang yang cocok, kita bisa mengajaknya bekerja sama.

Begitu pula apabila kita tidak memiliki lahan atau uang untuk membangun bisnis. Kita bisa berkeliling kepada orang-orang dengan sumber daya berlebih dan tertarik pada investasi bisnis, lalu menawarkan kerja sama bisnis dengan mereka. Jadi, selalu ada jalan untuk memulai bisnis kalau kita mau berusaha dan memutar otak.

Yang paling penting adalah tidak pernah berhenti berusaha. Apabila satu orang menolak, kita akan selalu menemukan satu orang lain yang bisa jadi memiliki visi yang sama sehingga akan lebih mudah untuk diajak bekerja sama.

 

Berfikir Menang, maka Anda Menang

Otak manusia merupakan alat tercanggih dari seluruh teknologi di dunia. Tidak hanya menerima respon dari semua syaraf di bagian tubuh, otak juga mengendalikan hormon serta proses tubuh lain, seperti lapar dan kenyang, analisa dan emosi, dan lain sebagainya. Dalam proses otak pula, terjadi proses persepsi yang paling rumit karena berhubungan dengan tidak hanya sistem internal dalam tubuh, tetapi juga dipengaruhi oleh lingkungan eksternal si manusianya.

Persepsi sangat mempengaruhi Anda dalam keseharian, bisa dibilang magic kit buat seluruh tindak-tanduk Anda. Contoh sederhana saja, orang yang terbiasa berpikir negatif akan terlihat dari bahasa tubuh dengan bahu menurun, gaya berjalan yang lamban, mata yang kurang bersinar, karena persepsi negatif telah mempengaruhi caranya bersikap di hadapan dunia di luar dirinya. Begitu pula dengan orang yang berpikir positif, bahasa tubuh mereka tampak dari punggung yang tegak, ujung bibir yang agak tertarik ke atas, hingga jalan yang tegas.

Tidak hanya itu, persepsi dapat mempengaruhi Anda hingga pada keputusan yang Anda ambil dalam hidup Anda, sekalipun kadangkala beroperasi secara tidak sadar. Orang yang positif tidak mengalami banyak kecemasan, sehingga tidak terlalu punya banyak ketakutan akan masa depan. Hal itu membuat mereka lebih cepat dalam mengambil keputusan dan bertindak tanpa pertimbangan tak perlu yang menghambat gerak mereka.

Kerap kali motivator manapun sering berkata bahwa Anda semua adalah pemenang dari awal. Bahwa Anda merupakan salah satu hasil 1 dari 300 juta sperma, maka Anda pemenang dari awal. Tidak mengherankan motivator suka sekali menggunakan pernyataan yang sugestif ini agar pola pikir itu tertanam dalam benak Anda menjadi satu persepsi yang dapat diaplikasikan dalam keseharian Anda.

Maka dari itu, tidak heran, orang yang sedari awal berpikiran positif dan selalu menganggap dirinya adalah orang yang akan memperoleh kemenangan, cenderung akan sukses nantinya. Tidak peduli apakah ia adalah murid yang pernah juara dari belakang di sekolahnya atau anak yang berani megabaikan kata-kata otorita di sekitarnya. Bagaimanapun, pada dasarnya anak-anak adalah makhluk kreatif yang penuh antusiasme belajar dengan tempo yang cepat dan melompat-lompat. Apakah otorita di sekitarnya paham atau tidak, itu yang jadi masalah sebenarnya.

Anda juga perlu menanamkan hal tersebut dalam benak Anda. Bahwa Anda adalah pemenang. Bahwa Anda akan sukses dalam apapun yang Anda lakukan, sehingga persepsi positif itu akan membuat Anda yakin dalam setiap tugas yang Anda kerjakan. Sekalipun gagal, Anda akan sadar bahwa gagal hanya pelajaran untuk kesuksesan yang menanti di depan Anda.

 

 

 

 

 

 

Kebiasaan Orang Sukses adalah Membaca dan Belajar

Seseorang menjadi sukses bukan semata-mata karena keberuntungan. Mereka menjadi sukses karena mereka terdidik untuk itu. Ada beberapa kualitas mental yang biasa terdapat pada orang yang sukses dalam bisnisnya daripada orang yang berhenti atau bahkan, tidak memulai bisnis sama sekali. Kualitas mental ini yang mengarahkan mereka pada kerja efektif pada bisnis.

Salah satu kualitas yang berbeda pada orang yang sukses daripada orang kebanyakan adalah kemauan mereka untuk belajar. Rasa ingin tahu mereka tinggi dan mereka mempunyai kemauan untuk berjuang dalam memenuhi kebutuhan rasa ingin tahu itu. Oleh sebab itu, wajar pula kalau mereka menjadi terdorong untuk lebih banyak membaca. Karena sumber pengetahuan memang lebih banyak terdapat dalam bentuk tulisan.

Kenapa membaca? Sebenarnya sumber ilmu tentu tidak hanya dapat diperoleh dari sumber tulisan. Banyak sumber-sumber lain, seperti seminar dan workshop, diskusi dalam grup, bahkan sekarang orang mulai menyebarkan ilmu lewat video youtube  atau DVD. Namun, bagaimanapun harus diakui sumber-sumber lain ini kebanyakan terbatas dan pada akhirnya seseorang harus mengabadikannya dalam tulisan.

Tulisan adalah catatan paling abadi sepanjang masa. Bahkan, sejak zaman prasejarah, manusia purba mencatat peristiwa-peristiwa dalam bentuk visual, yaitu gambar-gambar. Hingga, pada zaman selanjutnya, manusia mulai menemukan tulisan.

Bahkan, pada era internet yang sangat berkembang ini, orang-orang masih memilih untuk menjadikan tulisan sebagai sarana berekspresi mereka. Oleh sebab itu, wajar kalau membaca menjadi slogan dimanapun kita berada. Karena, kebanyakan sumber pengetahuan, baik secara offline atau online, ada dalam bentuk tulisan.

Orang yang sukses pun tentunya memiliki kehausan untuk membaca tulisan tentang ilmu-ilmu yang mereka butuhkan untuk mencapai puncak karir mereka. Dengan memenuhi pikiran mereka dengan pengetahuan, lantas menerapkannya, mereka memiliki banyak alternatif solusi bagi pencapaian bisnis mereka. Membangun sistem, struktur organisasi dalam bisnis, hingga strategi marketing dalam bisnis, semua hal-hal ini sudah dibukukan dalam bentuk tulisan dan dapat diakses lewat media apapun.

Tidak hanya pengetahuan teknikal, kadang-kadang kita membutuhkan inspirasi untuk memulai bisnis atau melakukan inovasi-inovasi dalam bisnis. Hal ini dapat kita dapatkan juga melalui buku-buku tentang bisnis atau blog-blog yang memuat tentang pengalaman seseorang memulai bisnis. Jadi, banyak sekali manfaat apabila kita mulai aktif membaca. Bagi orang yang tidak suka membaca, mungkin aktivitas ini menjadi beban tersendiri. Akan tetapi, kita dapat mempersepsikan bahwa bacaan diperlukan untuk memperluas wawasan. Sehingga, kita terfokus pada ilmu yang kita dapat daripada aktivitas membaca itu sendiri.

Jalan untuk Sukses adalah dengan Membantu orang lain Sukses

Membantu orang lain adalah sebuah bentuk kebajikan yang selalu diajarkan oleh orang tua kita. Seperti, aturan untuk berbagi dengan teman saat kita mempunyai makanan atau mau meminjamkan mainan untuk teman kita yang lain dan bermain bersama-sama. Ajaran itu berkembang seiring kita dewasa. Bagi anak muda yang menaiki jasa angkut kereta dianjurkan untuk memberikan porsi kursi mereka bagi yang lanjut usia atau ibu hamil. Intinya, kita selalu diajarkan untuk membantu orang lain.

Walaupun tujuan membantu orang lain bukan merupakan jasa balas budi yang bisa kita tuntut di kemudian hari, membantu orang lain bisa membuat kita sukses. Kita tidak membicarakan tentang seorang tukang becak yang mau memberikan tumpangan gratis dan ternyata penumpangnya adalah seorang miliuner yang kemudian mewariskan hartanya, sehingga tukang becak menjadi kaya mendadak. Hal itu mungkin nyata terjadi, tapi kesempatannya mungkin hanya 1 berbanding 1 juta kali.

Pernahkah kita membantu seseorang, lalu merasakan kepuasan setelahnya? Hal itu terjadi karena sebagai makhluk sosial, kita memiliki kebutuhan untuk mengikat diri secara emosional dengan orang lain. Maka, perilaku-perilaku yang berhubungan dengan ikatan terhadap orang lainnya itu menimbulkan kepuasan, karena sebenarnya kita tengah memenuhi kebutuhan sosial itu.

Menjalani kehidupan dengan kepuasan tentu membuat kita lebih optimis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk pula dalam menjalani bisnis. Memulai hari dengan perasaan baik akan membuat kita juga akan lebih fokus dan berpikir lebih jernih saat menyelesaikan tugas-tugas dalam bisnis. Ini jelas membantu kita untuk mencapai kesuksesan pribadi.

Sementara itu, saat membantu orang lain menapaki jalannya untuk sukses, kita juga menambah pengalaman-pengalaman dalam berbisnis. Secara tidak langsung, kita terlibat dalam permasalahan orang yang kita bantu dan kita juga membantu mencari solusinya. Artinya, itu adalah pelatihan gratis untuk kita sendiri, yang nantinya dapat diterapkan dalam bisnis kita sendiri.

Dalam melakukan kebaikan, kita juga tentunya akan mendapat balasan. Mungkin balasan itu tidak secara langsung diberikan oleh orang yang ditolong, tetapi bisa datang dari sumber lain. Bisa jadi dari orang yang mendengar atau mengamati bagaimana kita menunjukkan performa kita saat membantu orang lain dalam memecahkan persoalan dalam bisnis, sehingga ia tertarik untuk mengenal kita lebih jauh dan bahkan mengajak untuk bekerja sama.

Jadi, jangan pernah ragu untuk membantu sesama kita dalam menjalankan bisnis atau dalam masalah kehidupan lainnya. Walaupun tidak memperoleh balasan secara langsung, kita masih dapat menemukan kepuasan dan pengalaman-pengalaman lewat membantu orang lain.

Membedakan Arti Gagal dan Belajar

Gagal itu menyebalkan. Tidak ada orang yang berniat untuk gagal saat memulai sesuatu. Kegagalan itu datang begitu saja, kadang karena keadaan yang tidak kondusif, kadang pula karena pengambilan keputusan yang salah. Apapun itu, usaha kita tidak membuahkan hasil, walaupun kita merasa sudah banting tulang untuk mencapai target kita.

Sebagian orang menyerah dan mencoba mencari cara lain. Beberapa mencari kesempatan di tempat lain, beberapa hanya sekadar melarikan diri dari kegagalan mereka. Mudah terlihat perbedaan antara kedua orang dengan motif yang berbeda ini. Orang yang memang melihat kesempatannya di tempat lain tidak ragu-ragu dalam memanfaatkan kesempatan tersebut dan memulai usahanya di tempat yang lain dengan keyakinan besar. Sementara, orang yang melarikan diri akan mengambil kesempatan yang ada setengah hati, sementara bagian lain dari dirinya tidak mampu merelakan usaha lamanya yang mengalami kegagalan.

Walaupun keduanya mengambil kesempatan baru, persepsi ini akan mengubah sikap mereka terhadap kesempatan yang ada. Orang yang mampu melihat kesempatan akan berjuang lebih keras, sementara yang melarikan diri akan melihat kesempatan sebagai masalah yang lebih besar. Akibatnya, perasaan negatif terus tumbuh dan mempengaruhi semangat dalam bekerja.

Kegagalan yang sesungguhnya adalah pada saat kita berhenti belajar. Walaupun banyak orang yang menyatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, tetapi tetap tergantung murid mereka apakah mau mengambil pelajaran dari pengalaman itu. Walaupun pola pikir dapat mempengaruhi cara kita menginternalisasi atau menyerap pengalaman di depan mata, hal ini juga mampu mengubah pola pikir kita, walaupun tidak dalam jangka waktu yang pendek.

Belajar artinya menyerap pengetahuan di sekitar kita sehingga kita dapat menerapkannya dalam keseharian. Salah satu sarana belajar yang paling efektif adalah kegagalan. Kita gagal karena sesuatu. Apakah itu pengambilan keputusan yang salah atau perencanaan yang tidak tepat. Apapun itu, kegagalan membawa pengetahuan tentang keputusan yang salah, apakah tentang produk atau tentang konsumen dari produk tersebut. Kesalahan itu dapat kita evaluasi dan temukan solusi yang tepat dari masalah sebenarnya. Dengan begitu, kita tahu apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi kegagalan yang tampak dari gejala-gejala situasi yang kita hadapi.

Salah satu pepatah di Amerika menyebutkan, ‘some win, some learn.’ Tidak ada yang kalah dalam suatu perjuangan, yang ada hanyalah media belajar baru yang dapat mengembangkan diri kita menjadi makhluk yang lebih baik.