Pentingya Bersikap Kompetitif Dalam Menjalankan Bisnis

Persaingan dalam dunia kerja memang tidak bisa dihindari. Apalagi dalam dunia bisnis, setiap pebisnis harus memiliki inovasi dan kreativitas agar bisa mempertahankan usahanya dan terus memenangkan persaingan bisnis. Lantas bagaimana caranya untuk bersikap kompetitif dalam menjalankan bisnis itu sendiri?

Meski sebagian orang mengatakan bahwa kompetisi dalam bisnis adalah hal yang buruk, sedangkan seharusnya adalah melakukan kerja sama untuk memberikan hasil yang terbaik. Namun jika dilihat lebih detail, kompetitif juga bisa memberikan dampak positif bagi perkembangan diri dan bisnis Anda. Berikut ini berbagai bentuk hal positif yang mencerminkan pentingnya bersikap kompetitif saat menjalankan bisnis :

  1. 1.   Adanya peningkatan pelayanan

Kompetitif dalam bisnis akan membangun lingkungan pebisnis yang selalu berusaha untuk meningkatkan pelayanan. Sehingga konsumen akan semakin terpuaskan dan kebutuhan pun akan terpenuhi dengan baik.

  1. 2.   Selalu melakukan inovasi

Agar pebisnis tidak tergerus oleh zaman dan tertinggal oleh waktu, maka dia harus melakukan inovasi mengikuti perkembangan zaman. Secara tidak langsung akan meningkatkan kapasitas dan kualitas dari pebisnis itu sendiri.

  1. 3.   Mengetahui selera pelanggan

Jika Anda tidak memiliki pesaing, mungkin tidak akan terus mengikuti perkembangan dan berusaha mengetahui selera pelanggan. Ini salah satu dampak positif kompetitif yang bisa membuat para bebisnis mengikuti selera masyarakat.

  1. 4.   Meningkatkan motivasi

Bahkan karena adanya persaingan, Anda akan terus memiliki motivasi untuk bergerak maju dan memberikan yang terbaik yang bisa Anda berikan.

  1. 5.   Terus belajar

Semakin lama dalam dunia bisnis, Anda wajib untuk terus belajar, memahami berbagai kondisi dan lingkungan. Sehingga ketrampilan Anda akan terasah dengan baik dan meningkatkan kapabilitas serta kualitas diri.

Demikianlah berbagai pentingnya bersikap kompetitif pada saat menjalankan bisnis. Meski banyak yang melakukan kecurangan untuk meningkatkan keuntungan bisnisnya, Anda harus tetap berada pada koridor yang benar dan hal positif agar memperoleh keuntungan yang berkah dan Anda akan dipercaya oleh vendor dalam jangka panjang. Selamat berjuang dan semoga kesuksesan selalu berpihak pada Anda.

Ini Rahasia Keberutungan Yang Wajib Anda Ketahui

Apakah Anda pernah merasa keberuntungan menjauhi Anda? Atau Anda merasa dalam hidup Anda, kesialan selalu menghantui? Mungkin Anda lebih baik mencoba mengubah pola pikir Anda. Bisa dibilang, tidak ada kata kebetulan di dunia ini. Bahkan, saat Anda bertemu seseorang yang baru di suatu tempat, hal itu tidak bisa dibilang sebagai kebetulan. Ada hukum kausalitas yang mendorong Anda berdua agar sampai di tempat yang sama. Walaupun, kadang hukum kausalitas tidak semuanya bisa kita amati.

Misalkan, Anda bertemu dengan seseorang di kereta. Anda mengarah ke tempat kerja Anda. Tentu saja, Anda menaiki kereta di jadwal yang sama seperti biasa dan walaupun Anda tidak mengetahuinya, orang yang Anda temui akan memiliki rutinitas yang sama dengan Anda. Namun, rutinitas itu dibangun secara sengaja oleh Anda dan orang tersebut, dan apabila Anda bisa memperhitungkan rutinitas atau pola dari suatu rutinitasnya, Anda akan bisa memprediksi peluang Anda bertemu dalam satu gerbong. Mirip dengan kisah John Nash, di film A Beautiful Mind, yang mencoba memprediksi pola gerakan burung Merpati dengan perhitungan matematis.

Sama halnya dengan keberuntungan. Orang bisa merendah dengan mengatakan ‘cuma lagi beruntung saja,’ tetapi keberuntungan tidak bekerja begitu saja. Sama halnya dengan ‘kebetulan,’ ada teknik-teknik yang bisa Anda lakukan agar keberuntungan selalu berpihak pada Anda.

  1. Mengubah persepsi

Lagi-lagi persepsi. Ya, memang persepsi memainkan peran penting dalam semua kesempatan dalam hidup. Kalau Anda memiliki persepsi positif dalam hidup Anda, apapun yang ada di hadapan Anda, akan menunjukkan peluang dan hikmahnya sendiri. Saat Anda dipecat, Anda mungkin akan terdorong untuk berbisnis dan menjadi jauh lebih menghasilkan daripada Anda sebagai karyawan.

  1. Memprediksikan pola

Anda tidak perlu menjadi sepintar John Nash untuk memprediksikan suatu pola. Dengan memahami dasar dari hukum kausalitas saja, Anda akan bisa melihat pergerakan satu pola. Misalkan, Anda seorang peneliti yang membutuhkan sponsor yang sulit untuk didekati. Anda bisa mengecek jadwal orang yang punya pengaruh dalam memberikan donasi, lalu merancang ‘keberuntungan’ itu untuk berpapasan pada saat jeda waktunya untuk membuat temu janji.

  1. Menunjukkan kualitas Anda

Sementara, kesempatan datang karena tumbukan-tumbukan dari pola gerakan masing-masing orang, salah satu yang paling penting justru berasal dari diri sendiri. Orang yang memiliki sejumlah modal tidak akan mau menginvestasikan uang mereka pada orang yang mereka tidak percayai. Oleh karena itu, Anda bisa meraih keberuntungan Anda dengan menunjukkan keahlian Anda. Tentu saja, kemampuan persuasi akan memberikan suatu keberuntungan sendiri.

 

 

 

 

Tips Sukses Dengan Menciptakan Peluang

Seorang penulis tidak akan bisa hidup dengan inspirasinya. Kalau inspirasi hilang, maka karyanya tidak akan tercipta dan hidupnya tak akan berjalan dengan tinta kering. Beberapa penulis menyatakan bahwa inspirasi hanya bisa datang sendiri, tetapi waktu tidak akan menunggu penulis, bukan? Maka, akhirnya terbentuklah satu frasa terkenal di kalangan penulis, yaitu ‘mencari inspirasi.’ Tentu saja hal ini diartikan sebagai ungkapan, karena inspirasi sesungguhnya ide yang ada di dalam kepala penulis sendiri, tetapi emosi yang ada dalam diri seringkali menghambat otak untuk mengucurkan ide-idenya.

Begitu juga dengan peluang. Seperti halnya inspirasi, peluang sebenarnya ada dalam persepsi kita. Peluang bisa terjadi hanya apabila kita bisa memanfaatkan banyak hal-hal di sekitar kita menjadi peluang-peluang bisnis. Artinya, bukan peluang yang menghampiri kita dan memberikan manfaatnya, tetapi kita sendiri yang menciptakan peluang tersebut.

Memang, ada kalanya kita merasakan bahwa peluang tidak pernah sampai kepada kita. Sementara orang memperoleh peluang, seperti modal untuk memulai bisnis atau rekan kerja yang mempunyai keahlian yang bisa dimanfaatkan, dan lainnya, peluang itu tidak pernah bisa kita peroleh. Namun, peluang-peluang ini menjadi peluang hanya karena orang yang menerima mempersepsikannya sebagai peluang.

Misalkan, seseorang yang tiba-tiba mendapatkan penawaran sebuah modal untuk memulai bisnis. Apakah itu peluang? Ya, kalau orang yang ditawarkan segera memutar otak mencari bisnis apa yang dapat dimajukan dengan jumlah modal yang ditawarkan. Sebaliknya, hal itu bukan peluang apabila orang tersebut takut untuk menerima dan berhutang kepada pemodal tersebut, sehingga menolak untuk berbisnis dengan uang itu. Kira-kira begitu ilustrasi sebuah peristiwa bisa menjadi peluang atau tidak.

Mari kita anggap bahwa hal itu terlalu baik untuk menjadi kenyataan. Kita tidak memiliki modal, tidak pula memiliki lahan atau keahlian untuk memulai bisnis. Apakah itu artinya kita tidak berpeluang? Sama sekali salah, karena peluang selalu bisa dicari di setiap peristiwa. Misalkan, kita tidak memiliki keahlian dalam bisnis, kita bisa mencarinya lewat media sosial, seperti Facebook atau LinkedIn, yang khusus mewadahi para pekerja. Saat kita menemukan orang yang cocok, kita bisa mengajaknya bekerja sama.

Begitu pula apabila kita tidak memiliki lahan atau uang untuk membangun bisnis. Kita bisa berkeliling kepada orang-orang dengan sumber daya berlebih dan tertarik pada investasi bisnis, lalu menawarkan kerja sama bisnis dengan mereka. Jadi, selalu ada jalan untuk memulai bisnis kalau kita mau berusaha dan memutar otak.

Yang paling penting adalah tidak pernah berhenti berusaha. Apabila satu orang menolak, kita akan selalu menemukan satu orang lain yang bisa jadi memiliki visi yang sama sehingga akan lebih mudah untuk diajak bekerja sama.

 

Benarkah Bisnis Hanya Keberuntungan?

Sebagian orang begitu takut untuk memulai bisnis. Bahkan, bisnis dipandang sebagai sumber pemasukan yang tidak pasti dan rentan akan runtuh hingga mengakibatkan kebangkrutan. Maka, sebagian orang yang berpendapat seperti ini lebih suka mengabdikan hidupnya pada satu perusahaan yang secara konstan memberikan mereka gaji per bulan.

Lain lagi halnya dengan orang yang memulai bisnis, tetapi tidak memiliki keyakinan untuk sukses. Mereka kerap berhenti di tengah jalan. Kebanyakan dua tipe ini menganggap bahwa orang yang berhasil dalam bisnis merupakan orang-orang yang memiliki keberuntungan cukup tinggi hingga bisa terus mempertahankan bisnisnya. Atau beralasan bahwa seseorang cukup beruntung punya modal untuk memulai bisnis.

Pemikiran ini tentu saja salah besar. Tidak ada bisnis yang berhasil semata-mata hanya karena keberuntungan. Bahkan, bisa jadi keberuntungan sama sekali tidak ada hubungannya dengan bisnis. Saat kita menemukan uang koin, apakah kita beruntung? Tidak, karena posisi mata kita memang tepat mengarah pada uang koin yang terjatuh. Apakah uang koin terjatuh karena kebetulan? Tidak, karena orang yang memegang uang koin tidak sengaja menjatuhkannya, mungkin karena ia terburu-buru mengambil sesuatu dari tas atau karena kantong celananya bolong, yang pada intinya membuat ia adalah orang yang ceroboh. Jadi, bisa dibilang kebetulan dan keberuntungan hanya alasan orang-orang untuk menyamankan diri di tengah kompetisi bermasyarakat.

Begitu juga bisnis dan keberuntungan. Tidak ada bisnis yang dimulai semata-mata dari keberuntungan. Walaupun anak orang kaya memulai bisnis dari modal bapaknya, hal itu tidak pernah menjamin dia akan sukses mengembangkan bisnisnya. Bahkan, orang yang tidak punya modal secuilpun bisa saja berkeliling ke sponsor-sponsor dan donatur-donatur yang menjanjikan, sehingga ia akhirnya mampu mengumpulkan modal untuk memulai bisnis. Ada banyak jalan menuju Roma, bukan?

Dalam prosesnya sendiri, bisnis juga tidak bisa mengandalkan keberuntungan sama sekali. Memilih bisnis saja membutuhkan perhitungan yang cermat tentang kondisi pasar yang menjadi target. Lalu, membangun kekuatan internal bisnis agar bisnis tidak tersendat karena masalah internal, artinya pelaku bisnis harus membentuk sistem dan alur kerja yang dapat melancarkan bisnis.

Tidak berhenti sampai di situ, pelaku bisnis juga harus memperhitungkan biaya produksi agar dapat memaksimalkan laba usaha, sehingga pelaku bisnis juga harus memiliki strategi dalam keuangan, serta strategi marketing yang menjadi kunci pemasukan dalam bisnis.

Tanpa memiliki kemampuan dalam berstrategi pada masing-masing elemen bisnis, maka bisnis juga tidak akan berkembang. Belum lagi inovasi yang harus dilakukan karena kadang ada pula bisnis-bisnis yang bersifat musiman. Ketika musim berakhir, tentunya mereka harus memutar otak agar bisnis tetap bertahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan untuk Sukses adalah dengan Membantu orang lain Sukses

Membantu orang lain adalah sebuah bentuk kebajikan yang selalu diajarkan oleh orang tua kita. Seperti, aturan untuk berbagi dengan teman saat kita mempunyai makanan atau mau meminjamkan mainan untuk teman kita yang lain dan bermain bersama-sama. Ajaran itu berkembang seiring kita dewasa. Bagi anak muda yang menaiki jasa angkut kereta dianjurkan untuk memberikan porsi kursi mereka bagi yang lanjut usia atau ibu hamil. Intinya, kita selalu diajarkan untuk membantu orang lain.

Walaupun tujuan membantu orang lain bukan merupakan jasa balas budi yang bisa kita tuntut di kemudian hari, membantu orang lain bisa membuat kita sukses. Kita tidak membicarakan tentang seorang tukang becak yang mau memberikan tumpangan gratis dan ternyata penumpangnya adalah seorang miliuner yang kemudian mewariskan hartanya, sehingga tukang becak menjadi kaya mendadak. Hal itu mungkin nyata terjadi, tapi kesempatannya mungkin hanya 1 berbanding 1 juta kali.

Pernahkah kita membantu seseorang, lalu merasakan kepuasan setelahnya? Hal itu terjadi karena sebagai makhluk sosial, kita memiliki kebutuhan untuk mengikat diri secara emosional dengan orang lain. Maka, perilaku-perilaku yang berhubungan dengan ikatan terhadap orang lainnya itu menimbulkan kepuasan, karena sebenarnya kita tengah memenuhi kebutuhan sosial itu.

Menjalani kehidupan dengan kepuasan tentu membuat kita lebih optimis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Termasuk pula dalam menjalani bisnis. Memulai hari dengan perasaan baik akan membuat kita juga akan lebih fokus dan berpikir lebih jernih saat menyelesaikan tugas-tugas dalam bisnis. Ini jelas membantu kita untuk mencapai kesuksesan pribadi.

Sementara itu, saat membantu orang lain menapaki jalannya untuk sukses, kita juga menambah pengalaman-pengalaman dalam berbisnis. Secara tidak langsung, kita terlibat dalam permasalahan orang yang kita bantu dan kita juga membantu mencari solusinya. Artinya, itu adalah pelatihan gratis untuk kita sendiri, yang nantinya dapat diterapkan dalam bisnis kita sendiri.

Dalam melakukan kebaikan, kita juga tentunya akan mendapat balasan. Mungkin balasan itu tidak secara langsung diberikan oleh orang yang ditolong, tetapi bisa datang dari sumber lain. Bisa jadi dari orang yang mendengar atau mengamati bagaimana kita menunjukkan performa kita saat membantu orang lain dalam memecahkan persoalan dalam bisnis, sehingga ia tertarik untuk mengenal kita lebih jauh dan bahkan mengajak untuk bekerja sama.

Jadi, jangan pernah ragu untuk membantu sesama kita dalam menjalankan bisnis atau dalam masalah kehidupan lainnya. Walaupun tidak memperoleh balasan secara langsung, kita masih dapat menemukan kepuasan dan pengalaman-pengalaman lewat membantu orang lain.

Tips Membangun Sistem Dalam Bisnis

Bisnis tanpa sistem bagai negara tanpa undang-undang. Betapa tidak? Sistem merupakan pengaturan dalam alur bisnis yang dapat membantu bisnis berjalan dengan lancar. Apalagi kalau bisnis tengah berkembang dengan staf-staf yang semakin banyak jumlahnya. Maka, sistem akan membantu untuk menjalankan komando dan koordinasi pada masing-masing staf yang ada dalam bagian bisnis.

Apa yang terjadi kalau bisnis tidak dilengkapi dengan sistem yang baik? Bersiap-siaplah alur kerja jadi kacau dan ketidakpuasan staf yang terlibat akan semakin tinggi karena ketidakjelasan peran dan kemana mereka harus berkoordinasi setiap kali ada masalah. Miskomunikasi dan miskoordinasi akan membuat penyelesaian masalah tertunda dan jadi berlarut-larut.

Membangun sistem bisa dibilang seperti pepatah ‘berakit-rakit ke haluan, berenang-renang ke tepian.’ Sulit dan merepotkan pada awalnya, tapi begitu sistem terbentuk, alur kerja juga akan berjalan dengan sendirinya. Berikut tips-tips membangun sistem yang bisa berguna :

  1. Menetapkan visi dan misi

Setiap bisnis seharusnya punya visi. Misalkan, visi dalam bisnis makanan adalah menjadi pelopor dalam makanan bernutrisi. Atau portal berita mungkin memiliki visi untuk menjadi penyedia informasi yang cepat dan akurat, dan seterusnya. Upaya mencapai visi dilakukan melalui misi, yaitu cara yang harus dilakukan untuk mencapai visi yang kita punya. Selanjutnya, kita akan mudah mem-breakdown sistem yang diinginkan dengan berpedoman pada visi bisnis kita.

  1. Menganalisa kebutuhan organisasi bisnis

Setiap organisasi atau industri mempunyai kebutuhan yang berbeda. Tidak heran struktur juga bisa berbeda-beda, begitu pula dengan departemen-departemen yang diperlukan untuk menjalankan perusahaan. Sistem dalam bisnis kita ini tentunya harus bersinergi dengan kebutuhan organisasi, supaya tujuan kita dalam bisnis tercapai.

  1. Menggunakan strategi pembentukan sistem

Membangun sistem juga membutuhkan strateginya sendiri. Banyak teori-teori untuk ini yang dapat kita manfaatkan. Sebagai contoh, business model generation, yaitu salah satu alat untuk mempermudah kita untuk memahami alur kerja bisnis dan memahami konsumen. Teori ini memiliki 9 komponen, yaitu customer segments, value proposition, channels, customer relationship, key resources, key activities, key partnership, dan cost structures. Dengan komponen ini, dibentuk business model canvas yang membantu kita membangun sistem yang kita inginkan.

  1. Diskusikan dengan staf

Jangan lupa bahwa staf atau partner kerja adalah komponen penting untuk kelancaran bisnis kita. Membangun sistem artinya menyesuaikan kebutuhan kita dengan mereka dalam hal menjalankan bisnis. Diskusi ini tidak perlu dilakukan secara langsung untuk membentuk sistem, tapi kita bisa mendiskusikan kebutuhan-kebutuhan dan pendapat para staf sebagai permulaannya.

 

Tips Memilih Bisnis yang Tepat dan Waktu yang Tepat.

Membangun bisnis tidak bisa dilakukan sembarangan karena risiko dalam menjalani bisnis cukup besar, apalagi kalau bisnis yang membutuhkan modal besar. Semakin besar juga usaha yang harus dilakukan agar modal tidak hangus begitu saja.

Tips-tips memilih bisnis yang tepat dan waktu yang tepat untuk memulai bisnis berikut ini bisa jadi bahan pertimbangan, terutama bagi kita yang kiranya ingin memulai bisnis. Jangan terlalu terburu-buru, karena bisnis butuh perhitungan yang cermat, tetapi jangan pula terlalu ragu. Kadang, pertimbangan yang paling baik adalah berupa tindakan nyata.

  1. Survey tren pasar yang tengah berlangsung

Kita tidak perlu mengikuti tren pasar begitu saja. Namun, hal ini harus jadi pertimbangan. Pada waktu kita mau memulai bisnis, tren seperti apa yang tengah berlangsung? Lalu, apa solusi bagi tren ini, apakah membutuhkan napas segar yang baru ataukah sekadar memberikan sentuhan unik bagi bisnis yang sejenis? Tentu saja, hal ini harus dilakukan setelah kita melakukan survey dan observasi pada kebutuhan pasar yang kita targetkan.

  1. Bidang usaha sesuai passion

Akan jauh lebih efisien saat kita menjalankan bisnis yang sesuai dengan passion kita. Setidaknya, kita sudah mengetahui apa yang harus kita lakukan. Walaupun begitu, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan dalam menekuni bidang usaha adalah dengan mempelajarinya baik-baik dan memilih bidang usaha sesuai dengan passion yang kita punya artinya kita akan lebih senang saat mempelajarinya.

  1. Pemilihan waktu memulai bisnis

Memilih waktu yang tepat untuk memulai bisnis juga merupakan salah satu pertimbangan penting. Bagaimana daya beli masyarakat akhir-akhir ini? Bagaimana dengan tren pasarnya? Kalau jawaban-jawaban tentang pasar ini sudah kita ketahui, kita bisa memulai bisnis dengan strategi lebih baik. Misal, strategi untuk mendorong daya beli masyarakat akan produk kita di tengah kesulitan ekonomi atau mempertimbangkan selera pasar, lalu beriklan dengan cara yang menarik minat, dan lain sebagainya.

  1. Waktu yang tepat untuk memulai bisnis adalah hari ini

Seperti yang telah disebut, kita memang harus mempertimbangkan beberapa hal ketika ingin memulai bisnis. Namun, bukan berarti kita harus merampungkan semua pertimbangan 100% sebelum kita mulai. Jangan pernah menunda, karena kadang penundaan itu bisa melemahkan niat kita yang semula. Jadi, waktu yang tepat untuk memulai bisnis tentu saja, hari ini juga.

 

 

Strategi Berfikir Kreatif

Semakin ketatnya persaingan, semakin kita dituntut untuk menjadi unik dan berbeda dengan yang lainnya, kalau tidak mau kalah saing. Untuk itu, kita perlu memiliki daya pikir yang kreatif. Berpikir kreatif sendiri melibatkan pola pikir yang fleksibel, orisinil, elaboratif, asosiatif, dan banyak lagi. Namun, berpikir kreatif merupakan pola pikir yang dikembangkan, tidak terjadi begitu saja.

Mungkin kita kadang merasa kita mengeluarkan ide kreatif secara tiba-tiba, tapi sebenarnya proses terbentuknya ide itu tidak sebegitu mendadak. Hal ini terjadi karena adanya pikiran bawah sadar yang merekam ingatan yang mungkin tidak begitu penting, tetapi dapat muncul akibat dorongan kuat. Misalnya, kita menemukan sebuah ide desain gambar yang tidak terpikirkan sebelumnya oleh kita, bisa saja gambar itu pernah kita secara sekilas. Karena merasa tidak penting, ingatan itu begitu saja ditekan ke pikiran bawah sadar.

Yang perlu dipahami adalah berpikir kreatif juga memiliki beberapa tahap. Yang pertama adalah tahap persiapan, yang berarti mengumpulkan berbagai ilmu dasar, seperti dari pelatihan atau pengalaman kerja, dan lain-lain. Dengan berbekal ilmu yang telah kita himpun untuk memecahkan masalah, kita perlu mengadakan penyelidikan (tahap investigation) tentang satu masalah yang terjadi. Tahap yang selanjutnya adalah melakukan transformasi (tahap transformation) terhadap masalah, yang dimaksudkan untuk melihat persamaan atau hubungan dari setiap peristiwa (convergent thinking) dan perbedaan dari masing-masing kejadian (divergent thinking) dengan cara mengevaluasi peristiwa tersebut.

Selanjutnya, kita dapat membiarkan pikiran bawah sadar bekerja untuk merenungkan informasi-informasi yang sudah dikumpulkan (tahap incubation). Perenungan ini nantinya akan memunculkan penerangan berupa ide-ide kreatif dan inovatif (tahap illumination). Ide-ide ini tentu perlu divalidasi apakah menjadi ide yang dapat diimplementasi pada masalah kita (tahap verification), lalu setelah ide tersebut terbukti efektif, maka kita tinggal menerapkannya pada masalah kita (tahap implementation).

Setelah mengetahui tahap-tahap ini, kita bisa mencoba mengasah diri untuk menelurkan ide-ide kreatif mengikuti tahap-tahap di atas. Tentu saja, kita dapat menerapkan strategi-strategi sebagai brainstorming untuk ide-ide kreatif yang dihasilkan. Misalkan, strategi Six Thinking Hats dari Edward de Bono, untuk mengasah cara berpikir yang membuat kita lebih mudah untuk mencari alternatif-alternatif ide baru dengan pola pikir yang berbeda-beda.

Belajar Berpikir ala Edward de Bono

Edward de Bono, psikolog kelahiran Malta, merupakan tokoh yang mencetuskan istilah lateral thinking (berpikir lateral).  Kalau dijelaskan dengan sederhana, berpikir lateral adalah cara berpikir yang berbeda daripada kebanyakan, tidak terikat pada kebiasaan atau hal-hal yang lumrah. Berpikir lateral ini tidak hanya dapat memperluas wawasan terhadap kemungkinan-kemungkinan baru, tetapi juga membuat kita mampu mempertimbangkan banyak alternatif pemecahan masalah.

Berpikir secara lateral ini juga sangat penting bagi pelaku bisnis. Perkembangan zaman juga menimbulkan perkembangan pola pikir yang kritis pada konsumen sehingga pelaku bisnis selalu perlu mengembangkan produk. Apalagi dengan adanya peningkatan pada kompetisi antar pelaku bisnis, semakin penting pula imajinasi bermain untuk menghasilkan produk yang unik, yang berbeda, tapi tetap menarik minat konsumen.

Dalam teori berpikir lateral ini, Bono mengemukakan teori “Six Thinking Hats” yang terdiri dari;

(1) topi putih, yang netral dan objektif. Kita tidak memberikan interpretasi atau opini, hanya informasi yang bersifat faktual;

(2) topi merah sebagai lambang perasaan, dimana kita berpikir dengan melibatkan emosi dan perasaan kita, seperti takut, sedih, marah, dan lain-lain;

(3) topi hitam untuk peringatan, yang mengajak kita untuk berhati-hati dalam menganalisa dan mengkritisi segala hal dari sisi negatif atau risikonya;

(4) topi kuning sebagai lambang cahaya dan optimisme, yang berlawanan dengan tipe topi hitam, dimana kita menganalisa masalah dari sisi yang positif, tanpa keluar dari batas faktual;

(5) topi hijau, yang menunjukkan energi, pertumbuhan, dan produktivitas; pola pikir yang mengajak kita pada ide-ide baru dan perubahan, solusi pada setiap risiko dari hasil pemikiran topi hitam;

(6) topi biru yang mempunyai warna angkasa sebagai lambang di atas segala-galanya, yaitu kontrol yang mengandung kesimpulan, keputusan, serta rencana dan langkah-langkah selanjutnya.

Topi ini merupakan lambang dari pola berpikir kita sehari-hari. Mungkin kita tidak bisa mencapai keenam sifat topi itu, tetapi kita bisa belajar untuk mengasah salah satu kemampuan pola pikir beberapa topi tersebut. Tentu saja tidak hanya satu tipe, agar kita dapat memiliki banyak alternatif cara berpikir.

Untuk mempelajari ini, ada beberapa latihan berupa teka-teki yang harus dipecahkan. Bisa berupa gambar, bisa juga berupa kisah misteri yang harus diungkap sendiri jawabannya. Kita juga bisa memilih tipe topi apa yang ingin diasah dengan cara pemecahan dengan kriteria yang kita inginkan. Apakah kita ingin netral seperti topi putih? Ataukah kita ingin melihat risiko-risiko dari setiap masalah? Menggabungkan tipe berpikir ini tentunya akan membantu dalam menemukan alternatif pemecahan masalah yang lebih baik.

 

Tips Melawan Krisis Dalam Berbisnis

Krisis dan bisnis adalah dua hal yang tak terpisahkan. Bukan berarti Anda harus segera berpikiran negatif bahwa bisnis akan membawa krisis. Namun, sebagaimana hidup diibaratkan sebuah roda, begitu pula bisnis dengan naik dan turunnya. Gulung tikar tidak pernah menjadi solusi terbaik dalam bisnis. Malah, hal itu hanya menjatuhkan mental Anda selanjutnya. Tips berikut mungkin bisa membuat Anda sedikit berpikir ulang untuk menyerah pada kondisi penuh krisis.

  1. Inovasi produk dan marketing

Menjadi pebisnis harus kreatif dan terbuka pada pandangan baru. Anda tidak bisa berhenti pada satu produk atau satu metode penjualan, sebagus apapun menurut Anda. Inovasi ini bisa mengikuti tren pasar yang tengah berkembang, tetapi tetap memberikan sentuhan unik dan sesuai dengan karakter pada bisnis yang tengah dibangun. Begitupun dengan metode pemasaran. Anda bisa melakukan promo atau iklan yang unik dan menarik yang membuat konsumen penasaran dengan produk Anda.

  1. Berkomunikasi dengan semua lapisan bisnis

Bisnis sekecil apapun biasanya mempunyai struktur organisasi dengan divisi yang memiliki peran berbeda-beda. Untuk mengatasi krisis, komunikasi dengan seluruh lapisan dalam struktur bisnis ini perlu dilakukan. Tidak hanya untuk mencari solusi dan identifikasi hambatan pada masing-masing bagian, tetapi juga untuk secara terbuka memberikan pemahaman pada setiap lapisan tentang kondisi perusahaan. Sekaligus, Anda dapat menunjukkan keyakinan Anda bahwa krisis akan lewat sehingga menjadi dorongan untuk seluruh divisi pada bisnis Anda.

  1. Fokus pada produksi utama

Produk apa yang tengah diminati atau yang telah mendapat kepercayaan masyarakat? Saat Anda mengalami krisis, Anda harus benar-benar melihat grafik penjualan perusahaan dan menyesuaikan dengan kondisi pasar, produk yang mana yang harus diprioritaskan. Gunanya adalah untuk mengefisiensi dana yang harus dikeluarkan karena produksi apapun tentunya akan membutuhkan dana. Dengan begitu, prinsip ekonomi dapat tercapai, yaitu menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya dengan modal sekecil-kecilnya.

  1. Menggandeng mitra usaha

Anda dapat mencari sponsor baru atau sponsor pendukung untuk bisnis Anda. Atau Anda dapat bekerja sama dengan mitra usaha yang dapat mendukung kemajuan bisnis Anda. Misalkan, Anda adalah penerbit buku, tentunya Anda dapat bekerja sama dengan agen-agen penjual yang dapat memasarkan buku Anda dengan lebih efektif.

  1. Keyakinan bahwa krisis akan berlalu

Sekali lagi, the last but not the least, keyakinan memegang peranan besar dalam mempertahankan bisnis sebesar apapun krisis yang dihadapi. Dengan keyakinan, Anda akan terus mempunyai motivasi untuk mencari solusi dan memang krisis pasti berakhir, tetapi hanya Anda yang dapat memutuskan ke arah mana krisis tersebut berlalu.