Team Building vs Character Building: Apa Bedanya dan Mana yang Perusahaan Anda Butuhkan?

Team Building Christian Adrianto

Team building dan character building sering dianggap sebagai dua istilah yang sama. Padahal, keduanya memiliki fokus, tujuan, dan hasil yang berbeda.

Memilih program yang salah bisa membuat investasi training perusahaan tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya dihadapi tim.

Bayangkan sebuah perusahaan memiliki masalah komunikasi antar divisi.

Solusinya bukan selalu character building.

Atau ketika perusahaan menghadapi masalah integritas dan kedisiplinan individu, solusinya belum tentu team building.

Masalah yang berbeda membutuhkan intervensi yang berbeda.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan team building dan character building? Kapan perusahaan membutuhkan masing-masing program? Dan apakah keduanya bisa digabungkan?

Artikel ini akan membahasnya secara praktis agar perusahaan dapat memilih program pengembangan tim yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan.

Daftar Isi

  1. Kenapa Team Building dan Character Building Sering Tertukar?
  2. Apa Itu Team Building?
  3. Apa Itu Character Building?
  4. Team Building vs Character Building: Apa Perbedaannya?
  5. Kapan Perusahaan Membutuhkan Team Building?
  6. Kapan Perusahaan Membutuhkan Character Building?
  7. Bagaimana Menentukan Program yang Tepat?
  8. Bisakah Team Building dan Character Building Digabungkan?
  9. Kesimpulan: Mulai dari Masalah, Bukan Nama Program
  10. FAQ Team Building dan Character Building

Kenapa Team Building dan Character Building Sering Tertukar?

Dalam banyak diskusi perencanaan program pengembangan tim bersama perusahaan, saya sering mendengar permintaan seperti:

“Pak Chris, kami butuh outbound untuk character building tim kami.”

Namun, setelah masalahnya digali lebih dalam, ternyata yang dibutuhkan justru team building.

Sebaliknya, ada juga perusahaan yang meminta team building penuh dengan permainan kolaboratif, padahal akar masalahnya justru berkaitan dengan integritas, tanggung jawab, disiplin, dan etos kerja individu.

Kebingungan ini sangat wajar.

Keduanya memang sering dikemas dalam format acara yang mirip: satu hari di luar kantor, permainan kelompok, aktivitas menantang, lalu ditutup dengan sesi refleksi.

Tetapi jangan terkecoh oleh format acaranya.

Yang membedakan bukan sekadar permainan yang digunakan, tetapi perubahan apa yang ingin dibangun setelah program selesai.

Team building terutama menyasar hubungan dan dinamika antaranggota tim.

Sementara character building lebih banyak menyasar nilai, sikap, dan kualitas individu.

Apa Itu Team Building?

Team building adalah program yang dirancang untuk memperkuat kerja sama, komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi antaranggota tim.

Fokus utamanya adalah dinamika kelompok.

  • Bagaimana anggota tim saling memahami?
  • Bagaimana mereka berkomunikasi ketika menghadapi tekanan?
  • Bagaimana mereka menyelesaikan konflik?
  • Bagaimana mereka membagi peran?
  • Dan bagaimana mereka bekerja bersama untuk mencapai satu tujuan?

Karena itu, aktivitas team building biasanya menggunakan tantangan kolaboratif yang mengharuskan peserta bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Namun, permainan sebenarnya bukan inti dari team building.

Yang paling penting adalah proses debrief dan transfer pembelajaran ke dunia kerja.

Misalnya, setelah sebuah permainan kolaboratif, fasilitator dapat mengajak peserta membahas:

  • Bagaimana komunikasi terjadi di dalam kelompok?
  • Siapa yang mengambil inisiatif?
  • Apakah semua anggota didengarkan?
  • Apa yang terjadi ketika muncul perbedaan pendapat?
  • Apakah tim memiliki tujuan yang sama?
  • Apa hubungannya dengan situasi kerja sehari-hari?

Tanpa proses refleksi tersebut, team building berisiko hanya menjadi acara bermain bersama, bukan program pengembangan tim.

Apa Itu Character Building?

Character building berfokus pada pembentukan dan penguatan nilai, sikap, serta kualitas diri pada level individu.

Beberapa aspek yang dapat menjadi fokus antara lain:

  • Integritas
  • Tanggung jawab
  • Disiplin
  • Komitmen
  • Resiliensi
  • Etika kerja
  • Ownership
  • Kemauan untuk terus berkembang

Tujuan character building bukan sekadar membuat peserta lebih akrab dengan rekan kerja.

Fokusnya adalah membantu individu memahami nilai dan perilaku seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadi pribadi dan profesional yang lebih baik.

Karena itu, program character building dapat melibatkan refleksi personal, studi kasus, simulasi dilema, aktivitas yang menguji tanggung jawab, maupun pengalaman yang mendorong peserta keluar dari zona nyaman.

Jika team building bertanya:

“Bagaimana kita bekerja lebih baik sebagai tim?”

Maka character building lebih banyak bertanya:

“Seperti apa saya harus bersikap sebagai individu ketika bekerja?”

Team Building vs Character Building: Apa Perbedaannya?

Secara sederhana, perbedaan team building dan character building dapat dilihat dari fokus dan hasil yang ingin dicapai.

AspekTeam BuildingCharacter Building
Fokus utamaDinamika dan hubungan antaranggota timNilai, sikap, dan kualitas diri individu
TujuanMemperkuat komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasiMembangun integritas, disiplin, tanggung jawab, dan ownership
Level perubahanKelompok atau timIndividu
Aktivitas umumTantangan kolaboratif, simulasi, problem solving, games kerja samaRefleksi personal, studi kasus, simulasi nilai, aktivitas pembentukan sikap
Cocok ketikaKomunikasi buruk, silo, konflik tim, atau tim baru terbentukEtos kerja menurun, masalah integritas, disiplin, atau penguatan core values
Indikator keberhasilanKerja sama dan komunikasi tim menjadi lebih efektifPerubahan sikap, perilaku, dan keputusan individu

Jadi, kalau pertanyaannya adalah “Mana yang lebih bagus?”, jawabannya bukan team building atau character building.

Jawabannya adalah:

“Mana yang paling sesuai dengan masalah perusahaan saat ini?”

Kapan Perusahaan Membutuhkan Team Building?

Team building biasanya lebih relevan ketika masalah utama berada pada hubungan dan dinamika kerja antaranggota tim.

Beberapa kondisi yang menunjukkan perusahaan mungkin membutuhkan team building antara lain:

  • Tim baru terbentuk setelah restrukturisasi, merger, atau perubahan organisasi.
  • Anggota tim belum memahami cara kerja dan karakter satu sama lain.
  • Komunikasi antaranggota tim atau antar divisi tidak berjalan efektif.
  • Muncul silo antar departemen.
  • Ada konflik interpersonal yang mulai mengganggu produktivitas.
  • Tim mengalami penurunan engagement dan rasa memiliki.
  • Kolaborasi lintas fungsi belum berjalan dengan baik.
  • Perusahaan ingin membangun alignment sebelum menghadapi target atau tantangan bisnis baru.

Dalam kondisi seperti ini, program yang hanya berfokus pada nilai individu belum tentu menyelesaikan akar masalah.

Yang perlu diperbaiki adalah cara orang-orang tersebut bekerja bersama.

Kapan Perusahaan Membutuhkan Character Building?

Character building lebih tepat ketika tantangan utama berada pada sikap, nilai, dan perilaku individu.

Beberapa situasi yang dapat menjadi indikasi antara lain:

  • Etos kerja mulai menurun.
  • Disiplin individu menjadi masalah.
  • Ada persoalan integritas atau tanggung jawab.
  • Karyawan cenderung menyalahkan orang lain ketika terjadi masalah.
  • Ownership terhadap pekerjaan masih rendah.
  • Perusahaan sedang memperkenalkan atau memperkuat core values.
  • Perusahaan ingin membangun fondasi karakter bagi karyawan baru.
  • Program management trainee atau fresh graduate membutuhkan pembentukan mindset dan nilai kerja.
  • Perusahaan ingin membangun budaya kerja yang lebih bertanggung jawab dalam jangka panjang.

Dalam kondisi tersebut, membuat orang lebih akrab satu sama lain belum tentu menyelesaikan masalah.

Mereka mungkin menjadi lebih dekat.

Tetapi kalau nilai dan sikap kerjanya tidak berubah, masalah yang sama bisa tetap muncul.

Bagaimana Menentukan Program yang Tepat?

Sebelum memilih vendor, trainer, venue, atau bahkan jenis permainan, sebaiknya perusahaan menjawab satu pertanyaan terlebih dahulu:

“Perubahan apa yang sebenarnya ingin kita lihat setelah program ini selesai?”

Gunakan diagnosis sederhana berikut.

Jika masalahnya ada pada hubungan antar orang ? Team Building

Contohnya, anggota divisi A dan B saling menyalahkan, komunikasi buruk, atau koordinasi sering gagal.

Fokus program sebaiknya pada komunikasi, trust, kolaborasi, conflict management, dan alignment.

Jika masalahnya ada pada sikap individu ? Character Building

Contohnya, disiplin rendah, ownership lemah, integritas dipertanyakan, atau karyawan mudah menyerah ketika menghadapi tekanan.

Fokus program sebaiknya pada nilai, tanggung jawab, resilience, mindset, dan perilaku individu.

Jika masalahnya ada pada keduanya ? Kombinasikan

Dalam banyak perusahaan, masalah individu dan masalah tim sebenarnya saling berkaitan.

Karena itu, kombinasi character building dan team building dapat menjadi pendekatan yang lebih komprehensif.

Yang penting, keduanya tidak sekadar ditempelkan dalam satu acara.

Urutan, porsi, aktivitas, dan proses refleksinya harus dirancang berdasarkan tujuan yang ingin dicapai.

Bisakah Team Building dan Character Building Digabungkan?

Bisa.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, kombinasi keduanya justru dapat menghasilkan program yang lebih kuat.

Logikanya sederhana. Team yang kuat membutuhkan individu yang dapat dipercaya. Dan individu yang baik membutuhkan lingkungan tim yang mendukung.

Karena itu, program dapat dimulai dengan refleksi personal mengenai nilai, tanggung jawab, dan ownership, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas kolaboratif yang menguji bagaimana nilai tersebut diterapkan ketika bekerja bersama orang lain.

Contohnya:

  1. Personal Reflection — peserta mengevaluasi nilai dan perilaku pribadi.
  2. Character Challenge — peserta menghadapi situasi yang menguji tanggung jawab dan pengambilan keputusan.
  3. Team Challenge — peserta bekerja dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah.
  4. Team Reflection — peserta mengevaluasi bagaimana perilaku individu memengaruhi tim.
  5. Action Commitment — peserta menentukan perilaku konkret yang akan dibawa kembali ke tempat kerja.

Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan pengalaman menyenangkan selama acara.

Mereka juga memahami hubungan antara karakter individu dan kualitas kerja tim.

Dalam program yang saya rancang untuk berbagai perusahaan, kombinasi kedua elemen ini dapat digunakan ketika perusahaan membutuhkan perubahan pada level individu sekaligus tim.

Kuncinya tetap sama:

Program harus dimulai dari kebutuhan bisnis, bukan dari permainan yang ingin digunakan.

Kesimpulan: Mulai dari Masalah, Bukan Nama Program

Kesalahan paling umum dalam memilih antara team building dan character building adalah memulai dari nama programnya.

“Kita tahun lalu sudah team building. Tahun ini character building saja.”

Atau:

“Peserta kita butuh outbound. Cari vendor outbound.”

Pendekatan seperti ini terbalik.

Seharusnya perusahaan mulai dari pertanyaan:

“Masalah apa yang ingin kita selesaikan?”

Jika masalahnya adalah komunikasi, trust, konflik, silo, atau kolaborasi, team building mungkin lebih relevan.

Jika masalahnya adalah integritas, disiplin, ownership, etos kerja, atau internalisasi nilai perusahaan, character building mungkin lebih tepat. Jika keduanya menjadi masalah, kombinasi keduanya dapat dipertimbangkan.

Jadi, jangan memilih program karena namanya terdengar menarik.

Pilih berdasarkan perubahan yang ingin Anda lihat setelah program selesai.

Sama seperti pentingnya merancang Kick Off Meeting yang Efektif dengan tujuan yang jelas, program team building dan character building juga harus dimulai dari diagnosis kebutuhan yang tepat.

Karena training yang bagus bukan sekadar membuat peserta senang selama acara.

Training yang bagus membuat sesuatu berubah setelah peserta kembali bekerja.


Butuh Team Building atau Character Building untuk Perusahaan Anda?

Masih ragu apakah perusahaan Anda lebih membutuhkan team building, character building, atau kombinasi keduanya?

Jangan mulai dari memilih permainan.

Mulailah dari masalah yang ingin diselesaikan.

Christian Adrianto membantu perusahaan merancang program Team Building, Character Building, Leadership Training, dan program pengembangan tim berdasarkan kebutuhan serta tantangan yang dihadapi organisasi.

? Jadwalkan Konsultasi Gratis — Diskusikan Kebutuhan Tim Anda

Artikel Terkait

Leadership Training untuk Manager Baru: Panduan Lengkap

Kick Off Meeting yang Efektif: 7 Elemen yang Sering Dilewatkan Perusahaan

Tentang Penulis

Christian Adrianto adalah Leadership Strategist & Human Performance Coach dengan pengalaman lebih dari 20 tahun di dunia training.

Ia telah mengajar lebih dari 300.000 peserta dalam ribuan kelas dan dipercaya oleh lebih dari 600 perusahaan untuk berbagai program pengembangan SDM, termasuk Team Building, Character Building, Leadership Training, dan Sales Training.

Dengan pendekatan yang interaktif, praktis, dan relevan dengan kebutuhan bisnis, program dirancang bukan hanya untuk memberikan pengalaman selama training, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang dapat diterapkan di tempat kerja.

FAQ Team Building dan Character Building

Apa perbedaan utama antara team building dan character building?

Team building berfokus pada hubungan dan dinamika antaranggota tim, seperti komunikasi, kepercayaan, kolaborasi, dan kemampuan bekerja bersama. Character building berfokus pada pembentukan nilai dan kualitas individu, seperti integritas, disiplin, tanggung jawab, ownership, dan etos kerja.

Kapan perusahaan sebaiknya memilih team building?

Team building cocok ketika perusahaan menghadapi masalah komunikasi, kurangnya kepercayaan, konflik antaranggota, silo antar divisi, atau membutuhkan peningkatan kolaborasi dan sense of belonging dalam tim.

Kapan perusahaan sebaiknya memilih character building?

Character building lebih tepat ketika tantangan utama berkaitan dengan sikap dan perilaku individu, seperti rendahnya disiplin, integritas, tanggung jawab, ownership, etos kerja, atau ketika perusahaan sedang memperkuat core values.

Apakah team building dan character building bisa digabungkan?

Bisa. Dalam kondisi tertentu, kombinasi keduanya justru dapat memberikan hasil yang lebih komprehensif. Character building dapat memperkuat kualitas individu, sementara team building membantu peserta menerapkan kualitas tersebut dalam konteks kerja sama tim.

Apakah team building harus selalu dilakukan di luar kantor?

Tidak. Team building dapat dilakukan di dalam maupun di luar kantor. Lokasi bukan faktor utama. Yang lebih penting adalah desain aktivitas, tujuan program, kualitas fasilitasi, proses refleksi, dan hubungan antara pengalaman training dengan situasi kerja peserta.

Apakah outbound sama dengan team building?

Tidak selalu. Outbound merupakan salah satu format aktivitas yang dapat digunakan dalam program team building. Namun, outbound yang hanya berisi permainan tanpa debrief dan transfer pembelajaran belum tentu menghasilkan perubahan dalam kerja sama tim. Team building yang efektif harus menghubungkan pengalaman selama aktivitas dengan perilaku yang dibutuhkan di tempat kerja.

Bagaimana cara memilih program team building atau character building yang tepat?

Mulailah dengan mengidentifikasi masalah yang ingin diselesaikan dan perubahan perilaku yang diharapkan.

Jika masalah berada pada hubungan dan dinamika tim, team building dapat menjadi pilihan.

Jika masalah berada pada nilai dan perilaku individu, character building lebih relevan.

Jika keduanya saling berkaitan, perusahaan dapat mempertimbangkan kombinasi kedua pendekatan.

Kategori: Team Building, Character Building, Leadership Training, Corporate Training

Pengaruh “Ego” terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam hidup kamu.

Pengaruh “Ego” terhadap kesuksesan dan kegagalan dalam hidup kamu.

Bill Russell

Seorang pemain basket bernama Bill Russell telah bermain di Boston Celtics selama 13 tahun lamanya. Hebatnya, Bill Russell bersama Team Celtics ini telah memenangkan kejuaraan NBA selama 11 tahun dari 13 tahun karirnya. Bill merasa kunci dari kesuksesan team nya terletak dari pembinaan dari Ego mereka. Bill berkata jika team Celtics ini memasuki gedung sekedar untuk berlatih atau bahkan untuk bertanding, mereka meninggalkan Ego masing-masing diluar pintu gedung. Sebaliknya yang mereka bawa masuk adalah team Ego. Team Celtics tahu bahwa mereka adalah sebuah team dan mindset mereka mengarah pada lawan, “Jika kalian ingin mengalahkan kami, kalian sebaiknya melakukan permainan yang hebat. Sebab kami jelas akan melakukannya”

 

Pelatih yang hebat tahu rahasia tentang “Ego”.

Pelatih yang hebat selalu berkata pentingnya sebuah team, bukan individu.

Vince Lombardi dari Green Bay Packer seorang pelatih NFL (American football – Rugby) yang hebat, pernah berkata kepada atletnya jika “Komitmen individu untuk tujuan kelompok adalah apa yang membuat sebuah tim, bisnis, keagamaan, atau negara bisa berjalan.”

Al McGuire, basketball Hall of Famer, adalah pelatih yang luar biasa di Universitas Marquette. Pelatihan utamanya kepada para pemainnya adalah, “Kita semua pergi ke kota bersama(untuk bertanding), atau tidak ada yang pergi ke kota sama sekali.”

Contoh lain dari John Wooden, pelatih dan Star Player bola basket UCLA yang ikonik. Dia bukan hanya seorang All-American di Universitas Purdue; dia dinobatkan sebagai College Player of the Year di tempat dia kuliah. Dia juga melatih banyak bintang di UCLA yang kemudian unggul di NBA, di antaranya pencetak gol terbanyak dalam sejarah NBA, menurut Kareem Abdul-Jabbar. Dia memiliki wawasan tentang individual ego dan ketenaran, “Bahan utama seorang bintang adalah anggota tim lainnya.”

 

“Bakat” tidak selalu menjadi hal yang utama.

Kamu membutuhkan bakat untuk memenangkan sesuatu, tetapi bakat satu orang saja tidak akan memenangkan pertandingan, bakat yang bisa bermain bersamalah (dalam sebuah team) yang memenangkan pertandingan. Jerry West, seorang penembak terbaik yang melegenda di NBA, selama 14 tahun karir bertandingnya hanya bermain di 1 team.

Michael Jordan, siapa yang tidak kenal sosok ini selama masa karirnya dalam dunia Basket dia bermain di Chicago Bulls (1991-1993, 1996-1998) sebelum akhirnya memutuskan benar benar pensiun. Oscar obertson orang kedua pemain terbaik disejarah NBA, seperti West selama 14 tahun dia hanya bermain dalam 1 team juara.

 

“Team Ego” tidak hanya dibidang olahraga.

Stephen Covey seorang bisnis consultan dan penulis buku terkenal “The Seven Habits of Highly Effective People” menulis ketika dia mengamati dunia bisnis, dia menemukan jika dalam bisnis ada 3 jenis orang/pekerja : Mandiri, Bergantung, Saling Bergantung. Kemudian Stephen berkesimpulan jika bisnis yang paling sukses dibuat oleh orang-orang yang saling bergantung. Perusahaan-perusahaan ini percaya semua jenis pekerjaan adalah penting dan tidak ada orang yang tidak punya pekerjaan.

Kita semua membutuhkan satu sama lain!

Dr. Jack Orr membuat sebuah universias St. Francis yang sudah mau tutup karena bangkrut menjadi tidak hanya bangkit namun juga memiliki dana abadi selama masa Dr. Jack menjabat. Dr. Jack membentuk team Ego yang di ditanamkan kepada semua anggota teamnya mulai dari Dewan Pembina, Pengurus Universitas, Pengurus Fakultas hingga pekerja pembersih dan OB dan dia menghargai setiap orang.

Prosfesi bidang kesehatan pasti bergantung pada permainan team. Jika pasien ingin dirawat dengan baik harus ada kerjasama antara perawat, dokter, terapis, apotaker, admin dan OB. Jika ada orang yang bekerja dalam rantai ini dipengaruhi oleh Ego individualnya. Maka berakibat pada pelayanan kepada pasien.

 

Kecemburuan membunuh kerja team.

Kecemburuan membunuh kerja team! Apapun bentuk platformnya, begitu kecemburuan memasuki sebuah organisasi, kerja team dipastikan hancur!

Saya sudah melihat banyak contohnya. Saya pikir ini menjadi hal penting kepada semua organisasi untuk menyadari adanya kecemburuan mulai masuk dalam team, dan menghentikannya langsung dan secepatnya.

Oliveeer Stone punya pengalaman dengan kecemburuan ini dan menulis “Jangan meremehkan kekuatan dari kecemburuan dan kekuatan iri hati untuk menghancurkan. Jangan sekalipun meremahkannya.”Dan Forbes menutupnya dengan “kecemburuan.. adalah kangker mental.”

 

Team Ego menang!

Cara Effektif Mengatasi Konflik Antar Atasan dan Bawahan

Christian Adrianto motivator, motivator terkenal, motivator indonesiaManusia di ciptakan berbeda baik sifat dan pemikirannya, oleh karenanya konflik pasti akan terjadi. Bisa jadi konflik terjadi antara atasan dan bawahan. Jika dibiarkan berlarut bisa jadi konflik di tempat kerja bisa berakibat buruk. Seperti penurunan kinerja karyawan, memecah fokus kerja, membuat kerja menjadi tidak nyaman.

Agar masalah tidak menjadi berlarut berikut ada beberapa cara untuk mengatasi konflik antar atasan dan bawahan di tempat kerja.

1. Biarkan emosi mereda

Konflik akan masih ada dan tidak dapat di selesaikan jika kedua atau salah satu pihak masih emosi, sehingga mengedepankan emosi daripada nalar. Bisa memakan waktu yang lama tergantung pribadi masing masing. Yang pasti jangan mencoba berbicara jika masih beremosi tinggi.

2. Bicaralah secara personal

Setelah kondisi mereda lakukan pembicaraan dengan atasan secara emoat mata, lakukan pembicaraan dengan nada yang baik jika di ucapkan dengan baik dan sopan pasti atasan akan mendengarnya, lakukan komunikasi yang baik siapa tahu akar masalah terjadi karena kesalahpahaman saja

3. Cari akar masalahnya

Identifikasi akar masalahnya, coba telaah apa yang menyebabkan konflik tersebut apakah masalah pekerjaan atau masalah pribadi. Yang pasti saat melakukan identifikasi jangan libatkan emosi, bila perlu tanyakan pada pihak ketiga dan tanyakan pendapatnya.

4. Beri kesempatan semua orang untuk mengutarakan pendapatnya

Semua pihak harus mau mendengarkan pendapat, kritik maupun saran orang lain. Hindari pandangan salah benar dalam proses berbagi pendapat ini karena hanya akan mengakibatkan konflik berikutnya.

5. Fokus pada masalah bukan pada pribadi

Jangan sampai keluar dari masalah jika saat melakukan argumentasi, fokus pada masalah yang sedang diselesaikan. Karena sering kali orang malah menyerang pribadi daripada menyelesaikan inti masalahnya.

6. Negosiasi ulang untuk mencari solusi bersama

Sua orang baik atasan dan bawahan harus menampung semua anspirasi dan pendapat yang ada, setelah itu sama sama berpikir untuk mencari solusi bersama

7. Minta bantuan pihak ketiga

Jika masing masing masih kukuh dengan pendapatnya ada baiknya melibatkan pihak ketiga yang netral dan dapat dipercaya untuk membantu dan memberi solusi yang netral

8. Buat aturan

Setelah ada solusi buat aturan supaya kejadian yang sama bisa dihindari

FINAL LAP – PEMBICARA SEMINAR MOTIVASI CHRISTIAN ADRIANTO

pembicara seminar motivasiQuarter terakhir adalah masa yang paling ditunggu tunggu oleh setiap perusahaan. Mengapa? Karena quarter terakhir sangat menentukan tercapai atau tidaknya target perusahaan.  Ibarat sebuah pertandingan balap F1, maka quarter terakhir adalah final lap yang akan menentukan siapa yang jadi juaranya.  Oleh sebab itu, untuk memenangkan pertandingan sangat dibutuhkan strategi, motivasi dan stamina yang tepat.

Motivator Indonesia Christian Adrianto menyampaikan dalam seminarnya bahwa ada 3 skenario dalam pertandingan ini.

  1. Pembalap anda (sales anda) SUDAH CAPAI TARGET
  2. Pembalap anda ON TRACK  dalam artian belum capai target tapi jika dilihat kebelakang akan capai target
  3. Pembalap anda KETINGGALAN JAUH DARI TARGET

Ada di posisi mana saja pembalap anda?

Jelas dibutuhkan strategi, Stamina dan Motivasi yang berbeda. Bagi yang masih jauh dari target tentu harus berjuang habis-habisan sampai final. Lakukan strategi yang berbeda. Jangan patah arang, karena masih ada waktu. Masih ada peluang. Selama anda belum menyerah, anda belum gagal.

Bagi yang On Track, jangan santai-santai dulu. Ingat, anda belum mencapai garis Finish. Jika anda lengah, masuk ke dalam zona nyaman, anda akan dibalap oleh competitor anda.  Targetkan untuk melampaui target.  Kerahkan segala upaya.

Nah, bagi anda yang sudah capai target. Selamat! Anda adalah orang-orang yang luar biasa. Tingkatkan prestasi anda. Jangan mudah puas dengan pencapaian anda. Musuh terbesar orang-orang sukses adalah mudah puas dalam posisi GOOD. Karena ketika anda puas dalam posisi GOOD, anda tidak akan pernah mencapai posisi GREAT.

Untuk mengundang pembicara seminar untuk memotivasi team anda di akhir tahun, Final lap, Kick Off  Meeting, Gathering, National Sales Meeting, Raker, Team building dll.

Hubungi

Fransisca

082110502502