Apa yang Terjadi dalam 1 Hari Training Resilient Mindset? Ini Isi Lengkapnya

Bukan ceramah, bukan games. Lihat jam per jam isi program training Resilient Mindset & Peak Performance dan apa yang karyawan bawa pulang setelahnya.

Salah satu pertanyaan pertama yang hampir selalu diajukan HR ketika kami memperkenalkan program ini adalah:

“Apa bedanya dengan training yang biasa kami adakan? Dan apa yang sebenarnya terjadi dalam satu hari itu?”

Pertanyaan yang sangat wajar. Dan justru karena kami menghargai pertanyaan itu, artikel ini hadir.

Tidak ada gunanya meyakinkan Anda dengan klaim abstrak seperti “program kami transformatif” atau “peserta pasti merasakan perbedaan”. Yang lebih berguna adalah membawa Anda masuk ke dalam ruangan, melihat jam per jam apa yang terjadi, mengapa setiap sesi dirancang seperti itu, dan apa yang karyawan Anda bawa pulang setelah hari itu selesai.

Jika setelah membaca ini Anda bisa membayangkan karyawan Anda menjalaninya dan gambaran itu terasa masuk akal dan relevan, maka artikel ini berhasil melakukan tugasnya.

Daftar Isi

  1. Sebelum Hari H: Needs Assessment
  2. 08.00–09.00 — Sesi Pembuka: Audit Mindset Saya Sekarang
  3. 09.00–11.00 — Growth Mindset dalam Situasi Kerja Nyata
  4. 11.00–12.30 — Mengelola Tekanan Tanpa Kehilangan Produktivitas
  5. 13.30–15.00 — Self-Motivation & Self-Leadership
  6. 15.00–16.30 — Membangun Kebiasaan Kinerja Tinggi
  7. 16.30–17.00 — Komitmen Publik & Action Plan 30 Hari
  8. Yang Dibawa Pulang: Lebih dari Sekadar Kenangan Training

Sebelum Hari H: Needs Assessment {#0}

Program ini tidak dimulai pada hari training. Ia dimulai 1–2 minggu sebelumnya.

Sebelum sesi berlangsung, kami melakukan needs assessment, proses untuk memahami konteks spesifik organisasi Anda. Ini bisa berupa kuesioner singkat untuk peserta, wawancara 30 menit dengan HR atau manajer kunci, atau kombinasi keduanya.

Yang kami cari: apa tantangan tekanan terbesar yang dihadapi tim ini? Apa pola respons yang paling sering muncul saat tekanan tinggi? Adakah konteks industri atau budaya organisasi tertentu yang perlu diintegrasikan ke dalam studi kasus?

Hasilnya: setiap sesi training disesuaikan. Studi kasus yang digunakan bukan contoh generik dari buku teks, melainkan situasi yang terasa familiar bagi peserta. Ini yang membuat materi terasa relevan sejak menit pertama, bukan setelah satu jam pemanasan.

08.00 – 09.00 – Sesi Pembuka: Audit Mindset Saya Sekarang {#1}

peserta training mengisi audit mindset di sesi pembuka program resilient mindset

Sebagian besar training dimulai dengan ice breaker dan preframe. Permainan ringan untuk mencairkan suasana dan mempersiapkan peserta agar fokus dan konsentrasi selama sesi. Program ini dimulai dengan cara yang berbeda.

Peserta langsung diberikan satu lembar kerja: Audit Mindset Personal.

Ini bukan kuis kepribadian. Ini adalah serangkaian pertanyaan reflektif yang dirancang untuk membantu setiap peserta melihat (mungkin untuk pertama kalinya secara sadar) bagaimana mereka secara default merespons tekanan, kegagalan, kritik, dan ketidakpastian.

Contoh pertanyaan dalam audit ini:

  • “Ketika Anda gagal mencapai target penting, apa yang pertama kali Anda katakan kepada diri sendiri?”
  • “Ketika atasan Anda mengkritik pekerjaan Anda di depan orang lain, apa yang terjadi di dalam diri Anda dalam 30 detik pertama?”
  • “Ketika ada perubahan kebijakan yang tidak Anda sukai, apa respons pertama Anda, ke diri sendiri dan ke rekan kerja?”

Tidak ada jawaban benar atau salah. Tujuannya bukan menghakimi, tapi membangun kesadaran diri sebagai titik awal perubahan.

Mengapa ini penting sebagai pembuka

Sebagian besar orang tidak pernah benar-benar berhenti dan mengamati pola pikir mereka sendiri. Mereka hidup di dalamnya, bereaksi dari dalamnya, tapi tidak pernah melihatnya dari luar.

Sesi audit ini menciptakan jarak kecil antara peserta dan pola pikir mereka. Dan jarak itulah yang membuat semua sesi berikutnya memiliki konteks personal, bukan abstrak.

Di penghujung sesi pertama ini, setiap peserta sudah memiliki gambaran awal tentang di mana fondasi mental mereka saat ini berdiri. Dari sinilah perjalanan satu hari ini berangkat.

09.00 – 11.00 – Growth Mindset dalam Situasi Kerja Nyata {#2}

Ini adalah sesi terpanjang dan paling substantif secara kognitif, sengaja ditempatkan di pagi hari ketika energi dan daya serap peserta masih optimal.

Bukan teori – simulasi

Sebagian besar peserta pernah mendengar istilah “growth mindset”. Beberapa bahkan sudah membaca tentangnya. Tapi mengetahui konsep dan mengalami bagaimana pola itu bekerja di dalam diri sendiri adalah dua hal yang sangat berbeda.

Sesi ini menggunakan format simulasi situasi kerja, peserta dihadapkan pada serangkaian skenario yang diambil dari konteks kerja nyata mereka (ingat: needs assessment di awal memastikan ini relevan). Skenario dirancang untuk memancing respons spontan, dan itulah yang diamati bersama.

Contoh skenario:

“Anda baru saja mempresentasikan proposal yang Anda kerjakan selama dua minggu. Direktur merespons: ‘Ini belum cukup kuat. Kerjakan ulang.’ Apa yang terjadi dalam pikiran Anda? Apa yang Anda katakan, atau tidak katakan, dalam 60 detik berikutnya?”

Peserta menuliskan respons spontan mereka. Kemudian dalam kelompok kecil, mereka mendiskusikan variasi respons yang muncul, mana yang mencerminkan fixed mindset, mana yang growth mindset, dan mengapa keduanya bisa muncul dari orang yang sama dalam kondisi yang berbeda.

Framework yang dibangun di sesi ini

Selain kesadaran, peserta keluar dari sesi ini dengan satu framework konkret: The Mindset Reframe Ladder, sebuah proses 4 langkah untuk mengubah respons fixed mindset menjadi growth mindset secara real-time, bahkan di tengah situasi yang menekan.

Ini bukan afirmasi positif yang dipaksakan. Ini adalah teknik berbasis kognisi yang bisa dipraktikkan dalam hitungan detik, dan menjadi lebih cepat dan lebih natural dengan latihan berulang.

11.00 – 12.30 – Mengelola Tekanan Tanpa Kehilangan Produktivitas {#3}

Setelah membangun kesadaran tentang pola pikir, sesi ketiga masuk ke area yang paling dirasakan karyawan secara fisik dan emosional: tekanan kerja.

Bukan tentang bagaimana menghilangkan tekanan, karena tekanan adalah bagian inheren dari pekerjaan yang bermakna. Tapi tentang bagaimana merespons tekanan dengan cara yang mempertahankan, bukan merusak, kualitas kerja.

Apa yang diajarkan di sesi ini

Mengenali zona tekanan Anda. Peserta belajar membedakan antara eustress (tekanan yang memotivasi dan meningkatkan performa) dan distress (tekanan yang melumpuhkan). Garis antara keduanya berbeda untuk setiap orang dan mengenali garis itu untuk diri sendiri adalah keterampilan yang sangat berharga.

Teknik regulasi respons cepat. Ketika amygdala mulai “membajak” fungsi berpikir (seperti yang dibahas di Artikel sebelumnya), ada teknik konkret yang bisa digunakan untuk mengembalikan kontrol ke prefrontal cortex dalam hitungan menit. Peserta berlatih teknik-teknik ini secara langsung bukan hanya membacanya.

Mengelola spiral negatif. Tekanan yang tidak dikelola sering memulai spiral: satu kegagalan kecil memicu keraguan diri, keraguan diri memicu kinerja yang lebih buruk, kinerja yang lebih buruk mempertegas keraguan. Peserta belajar mengenali tanda-tanda awal spiral ini dan menginterupsinya sebelum berkembang.

Komunikasi di bawah tekanan. Salah satu momen paling merusak dalam dinamika tim adalah ketika tekanan menyebabkan komunikasi menjadi reaktif, kata-kata yang diucapkan tanpa filter, keputusan yang dibuat tanpa pertimbangan. Peserta berlatih pola komunikasi yang tetap efektif bahkan saat kondisi emosional sedang tidak ideal.

Mengapa sesi ini ditempatkan sebelum makan siang

Sengaja. Energi mulai menurun menjelang tengah hari dan tekanan terhadap konsentrasi itu sendiri adalah konteks yang tepat untuk mempraktikkan apa yang baru saja dipelajari. Peserta mengalami manfaat tools ini secara langsung, bukan hanya secara teoritikal.

13.30 – 15.00 – Self-Motivation & Self-Leadership {#4}

Setelah istirahat makan siang, energi biasanya turun. Sesi ini dirancang khusus untuk kondisi tersebut, bukan dengan memaksakan energi tinggi, tapi dengan masuk ke percakapan yang personal dan bermakna.

Pertanyaan yang jarang ditanyakan di tempat kerja

Sesi ini dimulai dengan pertanyaan yang mungkin belum pernah secara eksplisit ditanyakan kepada peserta dalam konteks profesional:

“Di luar gaji dan jabatan, apa yang sebenarnya membuat Anda masih datang ke tempat kerja ini setiap hari?”

Ini bukan pertanyaan retoris. Peserta benar-benar menjawabnya secara tertulis, kemudian dalam diskusi kecil.

Tujuannya bukan terapi. Tujuannya adalah membantu setiap individu mengidentifikasi sumber motivasi internal mereka yang paling kuat, nilai-nilai, tujuan, atau kontribusi yang bermakna bagi mereka secara personal. Karena motivasi yang paling tahan lama adalah yang terhubung dengan sesuatu yang benar-benar penting bagi individu itu sendiri.

Framework Self-Leadership yang dibangun

Peserta diperkenalkan pada The Self-Leadership Triangle, tiga elemen yang harus dikelola secara sadar oleh setiap individu yang ingin menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri:

1. Clarity (Kejelasan): Saya tahu apa yang saya tuju dan mengapa itu penting.

2. Agency (Kemampuan bertindak): Saya percaya bahwa tindakan saya bisa memengaruhi hasil.

3. Rhythm (Ritme): Saya punya sistem untuk menjaga momentum, bukan bergantung pada mood atau kondisi eksternal.

Ketiga elemen ini kemudian dipetakan ke dalam konteks kerja masing-masing peserta. Bukan sebagai konsep abstrak, tapi sebagai pertanyaan konkret: Di area mana dari tiga ini Anda paling lemah saat ini? Dan apa satu langkah kecil yang bisa Anda ambil minggu depan?

Latihan: Dari Reactive ke Proactive

Bagian kedua sesi ini menggunakan latihan berbasis skenario untuk melatih respons proaktif vs. reaktif. Salah satu perbedaan paling signifikan antara karyawan yang dikendalikan oleh kondisi dan karyawan yang mengendalikan respons mereka terhadap kondisi.

Peserta berpasangan, bergantian mensimulasikan situasi yang memicu reaktivitas (kritik tidak terduga, perubahan mendadak, konflik interpersonal) dan berlatih merespons dari tempat yang lebih sadar dan disengaja.

15.00 – 16.30 – Membangun Kebiasaan Kinerja Tinggi {#5}

Ini adalah sesi yang paling praktis dan paling langsung bisa diaplikasikan keesokan harinya.

Semua pemahaman tentang mindset, semua tools regulasi tekanan, semua kesadaran tentang self-leadership, tidak akan memberikan dampak jangka panjang tanpa satu hal: kebiasaan yang dibangun secara konsisten.

Mengapa kebiasaan lebih penting dari motivasi

Motivasi berfluktuasi. Ada hari-hari di mana segalanya terasa mudah dan hari-hari di mana bahkan tugas sederhana terasa berat. Karyawan yang kinerjanya bergantung pada kondisi motivasi mereka akan memiliki grafik performa yang tidak stabil.

Karyawan dengan sistem kebiasaan yang kuat tidak bergantung pada kondisi motivasi untuk memulai dan menyelesaikan pekerjaan penting. Kebiasaan mengambil alih ketika motivasi tidak hadir, seperti otot yang sudah terlatih yang tidak perlu memikirkan cara bergerak.

Apa yang dibangun di sesi ini

Habit stacking untuk kinerja. Peserta belajar cara melekatkan kebiasaan baru pada rutinitas yang sudah ada, teknik yang terbukti secara riset jauh lebih efektif daripada mencoba membangun kebiasaan dari nol dengan willpower semata.

Sistem energi harian. Setiap peserta memetakan ritme energi alami mereka, kapan di sepanjang hari mereka paling tajam secara kognitif, kapan mulai menurun, dan bagaimana merancang jadwal kerja yang memanfaatkan pola ini. Ini adalah insight yang langsung bisa diimplementasikan hari berikutnya.

Recovery ritual. Kebiasaan kinerja tinggi bukan hanya tentang bagaimana bekerja keras, tapi bagaimana memulihkan diri dengan cukup cepat untuk bisa bekerja keras lagi. Peserta merancang ritual pemulihan personal yang realistis untuk kondisi kehidupan mereka masing-masing.

Habit tracker personal. Di akhir sesi, setiap peserta mengisi template habit tracker yang akan mereka gunakan dalam 30 hari ke depan. Bukan template generik, tapi yang dirancang berdasarkan tiga kebiasaan paling kritis yang mereka identifikasi untuk konteks kerja mereka sendiri.

16.30 – 17.00 – Komitmen Publik & Action Plan 30 Hari {#6}

Sesi terakhir adalah yang paling singkat, tapi dampaknya bisa jadi yang paling bertahan lama.

Mengapa komitmen publik penting secara psikologis

Riset psikologi sosial secara konsisten menunjukkan bahwa komitmen yang diungkapkan secara publik, kepada orang lain yang nyata, bukan hanya kepada diri sendiri, memiliki tingkat penyelesaian yang jauh lebih tinggi daripada resolusi pribadi yang disimpan sendiri.

Di sesi ini, setiap peserta tidak hanya menuliskan action plan mereka, mereka mengungkapkannya kepada satu rekan yang akan menjadi accountability partner mereka selama 30 hari ke depan.

Struktur action plan 30 hari

Action plan yang diisi bukan daftar aspirasi panjang yang terasa baik saat ditulis tapi tidak pernah dibuka lagi. Strukturnya disengaja agar konkret dan terukur:

Satu kebiasaan untuk dihentikan, pola pikir atau perilaku spesifik yang peserta identifikasi sebagai yang paling menghambat kinerja mereka.

Satu kebiasaan untuk dimulai, praktik konkret yang akan mereka mulai dalam 48 jam ke depan, bukan “suatu hari nanti”.

Satu hubungan yang akan diinvestasikan, baik itu relasi dengan atasan, rekan, atau bawahan yang selama ini kurang diperhatikan namun penting untuk kinerja dan kesejahteraan kerja mereka.

Satu metrik yang akan diamati, sesuatu yang konkret dan terukur yang akan mereka pantau selama 30 hari untuk melihat apakah perubahan benar-benar terjadi.

Check-in pasca-training

Program tidak berakhir saat peserta meninggalkan ruangan. Dalam 30 hari setelah training, ada sesi check-in singkat, bisa dalam format webinar 60 menit, sesi tanya jawab, atau forum diskusi online, di mana peserta berbagi progres, hambatan, dan pembelajaran dari implementasi action plan mereka.

Ini bukan sesi motivasi ulang. Ini adalah ruang untuk problem-solving dan pemeliharaan momentum, fase yang paling kritis dalam pembentukan kebiasaan jangka panjang.

Yang Dibawa Pulang: Lebih dari Sekadar Kenangan Training {#7}

Di penghujung hari, setiap peserta meninggalkan ruangan dengan hal-hal yang konkret dan bisa langsung digunakan:

Peta mindset personal. Dokumen yang menunjukkan di mana pola fixed mindset paling sering muncul dalam situasi kerja mereka, dan bagaimana menginterupsinya.

Toolkit regulasi tekanan. 3 teknik yang sudah dipraktikkan langsung selama training dan siap digunakan keesokan harinya.

Self-Leadership Triangle yang sudah dipetakan. Kejelasan tentang di mana kekuatan dan area pengembangan mereka dalam mengelola diri sendiri.

Habit tracker 30 hari. Sistem pemantauan yang sudah dipersonalisasi, siap diimplementasikan mulai besok pagi.

Action plan dengan accountability partner. Komitmen konkret yang sudah dibagikan kepada rekan, bukan hanya tersimpan dalam kepala.

Akses ke sesi check-in 30 hari. Jaring pengaman yang memastikan momentum tidak hilang begitu training selesai.

Yang membedakan program ini dari training yang mungkin pernah Anda adakan sebelumnya bukan hanya kontennya, tapi apa yang terjadi setelah hari itu berlalu.

Semangat bisa habis dalam seminggu. Tapi sistem, kebiasaan, dan kesadaran yang dibangun dengan benar, itu yang bertahan.

Ingin tahu apakah investasi ini masuk akal secara bisnis?

Lanjutkan: Berapa ROI Sebenarnya dari Investasi Training Mental Karyawan?

Artikel berikutnya memberikan angka dan kerangka berpikir yang bisa Anda gunakan untuk mempresentasikan program ini kepada manajemen atau CFO Anda.

Atau jika Anda sudah siap untuk bicara langsung:

Jadwalkan Konsultasi Gratis 30 Menit , Kami bantu analisis kebutuhan spesifik tim Anda sebelum ada komitmen apapun.

Christian Adrianto Motivator, Leadership & sales Trainer Terbaik Indonesia

Tentang Penulis

Christian Adrianto adalah Motivator, Corporate Trainer dan Peak Performance Coach yang merancang program berdasarkan integrasi riset neuroscience, psikologi positif, dan pengalaman lapangan nyata bersama ratusan karyawan dari berbagai industri. Salah satu motivator TOP 10 Terbaik Indonesia. Pendekatan beliau: konkret, berbasis sains, dan langsung bisa diimplementasikan. Dengan basis pengalaman selama lebih dari 20 tahun, beliau telah membantu lebih dari 600 perusahaan besar Indonesia, untuk meningkatkan produktivitas kinerja dan penjualan.

Guide Planning Program Training 2025

Training Christian Adrianto Motivator , sales & Leadership TrainerResep sederhana untuk meningkatkan retensi dan loyalitas karyawan adalah TRAINING.

Studi menyatakan bahwa 76% karyawan akan lebih loyal dan cenderung bertahan di Perusahaan yang memberikan program pelatihan (training) dan pengembangan (development).

 

Training development memegang peranan penting dalam pertumbuhan Perusahaan, termasuk program program training pengembangan karyawan.

 

Training memegang pondasi fundamental dalam peningkatan produktivitas kerja, kompetensi dan bahkan kepuasan dalam bekerja. Karena dengan pelatihan yang tepat, maka empowering karyawan dapat terjadi dengan menyediakan tools yang dibutuhkan dan sumber daya yang mendukung mereka untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Pelatihan yang tepat dapat memberikan keuntungan baik jangka pendek, maupun jangka Panjang, termasuk meningkatkan engagement karyawan dan retention rates, menurunkan Tingkat complain dan mengencourage prositive dan creative thinking.

 

Menurut LinkedIn, rata rata 94% karyawan mengatakan mereka bersedia stay di Perusahaan yang berani berinvestasi lebih dalam training & learning.

 

Employee Training Materials

Employee training materials adalah sumber yang digunakan untuk melatih, mengedukasi dan mendevelop knowledge dan skills karyawan. Employee training materials bisa berbentuk berbagai format, mulai dari digital hingga media cetak. Setiap materials harus memiliki learning goal yang spesifik dan outcome yang diinginkan.

 

Setiap leader, manager atau HR harus menyadari bahwa penting Menyusun plan untuk materi training yang benar benar dibutuhkan oleh karyawan. Pengalaman saya, tidak jarang HR yang mengundang saya untuk memberikan training, namun tidak mengetahui secara specific outcome apa yang dihasilkan dari training tersebut. Ibaratnya dating mau beli senjata, tapi ketika ditanya sama penjualnya mau nembak apa. Tidak tahu apa yang ditembak. Akibatnya trainer akan menebak nebak training apa yang dibutuhkan. Namun jangan khawatir, trainer yang berpengalaman, bisanya akan mampu menggali kebutuhan Perusahaan.

Ketika anda ingin mengadakan inhouse training untuk karyawan anda, jangan mau hanya terima program template. Karena kondisi dan challenge setiap Perusahaan berbeda beda. Trainer berpengalaman akan melakukan TNA atau training need analysis, sehingga ia dapat Menyusun program training yang benar benar tepat sasaran.

 

Sebagai contoh, Perusahaan A mengatakan bahwa ia membutuhkan training motivasi karena team sales penjualan ngedrop. Namun ketika saya meeting dengan direkturnya, ternyata hasil TNA mengatakan bahwa karyawan Perusahaan A tidak membutuhkan training motivasi, namun training selling skills terutama closing & handling objection. Ketika menjelaskan produk, mereka sangat ahli, namun ketika waktunya closing mereka gagal menjawab keberatan pelanggan. Akibat kurang pengetahuan, kurang jurus, makanya ditolak terus, sehingga motivasi ngedrop.

Jika tanpa TNA, saya memberikan training motivasi, maka  setelah training peserta akan semangat. Namun begitu terjun kelapangan, ditolak lagi oleh pelanggan, dan yang Namanya manusia, ditolak terus akhirnya motivasi akan ngedrop lagi. Namun jika ia punya knowledge baru, skill baru, otomatis ia akan lebih semangat, lebih percaya diri.

Motivasi itu penting, namun jujur saja, tanpa  skill, knowledge dan attitude yang benar, motivasi akan turun.

 

Maka di tahun 2025 ini, Analisa kebutuhan pengembangan team anda.

Target apa yang ingin anda capai?

Skill apa saja yang perlu ditingkatkan agar target tersebut tercapai?

Lakukan assessment dan knowledge check serta konsultasikan dengan user atau orang lapangan.

Tentukan learning objectives secara clear dan spesifik, apa hasil dan ekspektasi yang anda inginkan.

 

Semoga bermanfaat.

Be The best Version of You & Never Give Up!

 

Christian Adrianto motivator & trainer terbaik indonesiaChristian Adrianto

Motivator, Leadership & Sales Trainer

Program Inhouse Training : Penguatan Corporate Culture

Strengthening Corporate Culture:

Building a Unified and Engaged Workforce


 

Mengapa Penguatan Corporate Culture Diperlukan?

Bayangkan sebuah orkestra yang terdiri dari musisi berbakat, tetapi mereka bermain tanpa partitur yang sama. Masing-masing memainkan nada yang mereka anggap benar, namun hasil akhirnya adalah kekacauan. Meskipun setiap individu berbakat, tanpa keselarasan dan panduan yang jelas, mereka tidak bisa menciptakan harmoni.

Hal yang sama terjadi dalam perusahaan. Setiap karyawan bisa berbakat dan memiliki keahlian, namun tanpa budaya perusahaan yang kuat sebagai fondasi, hasil akhirnya adalah ketidakselarasan, komunikasi yang terputus, dan produktivitas yang tidak maksimal. Corporate culture adalah “partitur” yang menyatukan setiap karyawan untuk bekerja bersama mencapai tujuan yang sama. Dengan penguatan budaya ini, perusahaan dapat memastikan bahwa semua orang berkontribusi secara sinkron untuk kesuksesan bersama.

Training ini dirancang untuk memperkuat budaya perusahaan sehingga semua anggota tim merasa terhubung, selaras dengan nilai-nilai perusahaan, dan termotivasi untuk berkontribusi maksimal.

 

Metode Training:

  1. Presentasi Interaktif
  2. Case Study & Reflection
  3. Role-play dan Simulasi
  4. Group Discussion & Problem-Solving
  5. Action Plan Development

 

Silabus Pembelajaran:

1. Introduction to Corporate Culture: Why It Matters

  • Pembahasan: Definisi budaya perusahaan, peran budaya dalam menciptakan keselarasan tim, dampak dari budaya yang kuat terhadap kinerja dan produktivitas. Contoh perusahaan global yang sukses karena budaya yang kuat.
  • Aktivitas: Diskusi interaktif mengenai budaya perusahaan saat ini dan bagaimana peserta merasakannya.

2. Aligning Personal Values with Company Values

  • Pembahasan: Pentingnya menyelaraskan nilai-nilai individu dengan nilai-nilai perusahaan. Bagaimana keselarasan ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih produktif dan harmonis.
  • Aktivitas: Refleksi diri dan diskusi kelompok mengenai bagaimana nilai-nilai pribadi peserta selaras atau bertentangan dengan budaya perusahaan.

3. Building Trust and Open Communication in the Workplace

  • Pembahasan: Bagaimana komunikasi terbuka dan transparan dapat memperkuat budaya kerja. Pentingnya membangun kepercayaan antar karyawan dan antara pemimpin dengan tim.
  • Aktivitas: Game komunikasi yang efektif.

4. Creating Accountability and Ownership at Every Level

  • Pembahasan: Tanggung jawab dan akuntabilitas sebagai pilar budaya yang kuat. Bagaimana mendorong setiap individu untuk merasa bertanggung jawab atas peran mereka dalam kesuksesan perusahaan.
  • Aktivitas: Diskusi kelompok untuk merancang cara-cara meningkatkan akuntabilitas dalam tim.

5. Celebrating Success and Recognizing Contribution

  • Pembahasan: Pentingnya apresiasi dan pengakuan dalam membangun budaya yang positif. Bagaimana perayaan keberhasilan tim dan individu dapat memperkuat motivasi dan keterlibatan karyawan.
  • Aktivitas: Simulasi perayaan kecil dan pemberian penghargaan kepada anggota tim.

6. Action Plan: Embedding Culture into Daily Operations

  • Pembahasan: Merangkum pelajaran utama dan menyusun action plan. Setiap peserta akan merancang strategi untuk memperkuat budaya perusahaan di departemen atau tim mereka.
  • Aktivitas: Penyusunan rencana tindakan

 

Goal dan Tujuan Training:

  1. Memahami pentingnya budaya perusahaan yang kuat dan bagaimana hal ini berpengaruh terhadap kinerja tim dan kesuksesan organisasi.
  2. Mampu mengidentifikasi keselarasan antara nilai-nilai individu dengan nilai-nilai perusahaan.
  3. Meningkatkan komunikasi yang terbuka dan membangun kepercayaan di lingkungan kerja.
  4. Memperkuat rasa tanggung jawab dan kepemilikan setiap individu terhadap hasil kerja mereka.

 

Target Audience:

  • Karyawan dari berbagai level
  • Manajer dan tim leader yang bertanggung jawab untuk memastikan keselarasan antara nilai-nilai perusahaan dengan kinerja tim.

 

Durasi Total: 3 Jam

 

Materi dibawakan oleh

Christian Adrianto Motivator Top 10 Terbaik IndonesiaCHRISTIAN ADRIANTO 
MOTIVATOR, SALES & LEADERSHIP TRAINER

CHRISTIAN ADRIANTO dikenal sebagai motivator & trainer yang termasuk TOP 10 Motivator Terbaik Indonesia. Beliau merupakan founder dari PT. Rajawali Motivasi Indonesia, sebuah lembaga training dan seminar yang lebih dikenal sebagai Motivasi Indonesia. Sampai hari Motivasi Indonesia ini telah dipercaya lebih dari 600 perusahaan besar di Indonesia dengan tingkat kepuasan dan repeat order hingga 95%.

Sebagai Motivator beliau tidak hanya mengajarkan teori, karena beliau adalah seorang praktisi. Sehingga materi yang disampaikan aplicable, pasti bisa dipraktekkan dan disampaikan secara fun dan powerfull dengan roleplay, praktek dan diskusi hot seat.

Christian Adrianto telah berpengalaman dalam bidang training dan motivasi selama lebih dari 19 tahun (sejak 2004).
Sampai hari ini beliau telah diundang di hampir seluruh kota di Indoesia dan lebih dari 20 kali diundang ke Manca Negara untuk memberikan seminar. seperti:
Sydney – Australia, Xiamen – China, Hangzhou – China, Shanghai – China, Ho Chiminh City – Vietnam, Kuala Lumpur – Malaysia, dll

Dan beliau telah mengajar ribuan kelas. Dan telah memotivasi lebih dari 300.000 orang.
Beliau penulis buku nasional best seller, THE MIRACLE OF HAPPINESS  dan berbagai e-book maupun audio-book lainnya.

Sepanjang karir beliau, Christian Adrianto telah dipercaya lebih dari 600 perusahaan besar di Indonesia, dan telah membantu meningkatkan produktivitas dan penjualan. Dengan rekor peningkatan penjualan hingga 4.000%.

 

INGIN NAIK LEVEL TAHUN 2024? ANDA HARUS BACA HAL INI!

MOTIVASI TAHUN BARU 2024 BY MOTIVATOR TERBAIK INDONESIA CHRISTIAN ADRIANTORefleksi Akhir Tahun 2023 untuk menyambut Tahun baru 2024

Apa kualitas yang membuat seseorang bisa sukses?

Apakah Skill?

Determination?

Kegigihan?

Percaya diri?

Motivasi yang kuat?

Ngga salah sih, semua kualitas tersebut bisa mengantarkan seseorang pada kesuksesan. Tapi ada 1 hal yang mesti anda tahu jika anda mau tahun 2024 naik level.

Ada sebuah buku bagus yang ditulis oleh Marshall Goldsmith ,  berjudul : What Got You Here, Won’t Get You There.

Dalam buku ini Goldsmith mengatkan bahwa semua hal yang telah membawa anda pada kesuksesan anda hari ini, tidak akan membawa anda ke level yang lebih tinggi.

Yes betul, skill , knowledge , character bahkan kebiasaan anda mungkin telah membawa anda pada kesuksesan anda hari ini.

Namun semua itu tidak akan membawa anda ke next level. Untuk naik ke level kesuskesan yang lebih, dibutuhkan skill yang berbeda, kebiasaan kebiasaan yang jauh lebih efektif, mindset yang berbeda dan knowledge yang berbeda.

Sayangnya masih banyak orang yang terjebak pada pola lama, strategi lama, skill yang lama dan bahkan enggan upgrade diri karena merasa apa yang sudah dilakukan sudah bagus dan sudah luar biasa.

Ingat bahwa tantangan akan semakin seru, perubahan akan semakin cepat dan sangat mungkin apa yang sudah bagus di masa lalu, tidak lagi efektif di masa depan.

Mari menyambut tahun baru 2024 dengan meningkatkan diri.

Sampai jumpa di puncak kesuksesan

Be the best of you & Never Give Up!

 

by

Christian Adrianto

Motivator & Sales Coach

Pembicara Kick off Meeting

START REFERAL MINDSET

Start referal mindset.

Orang yang baru kenal akan cenderung tegang dan hati-hati. Tapi jika ada referensi, lebih tenang. Orang jauh lebih senang jika dapat sales dari referensi. Sebagai sales juga lebih enak jika ketemu pelanggan dengan digandeng orang yang dikenalnya.  Dalam memilih customer yang diberi service lebih Juga pilih orang yang anda baik dengan dia, ia akan baik dengan anda. Selain itu pilih juga orang jika mereferensikan, kata-katanya didengarkan orang lain dan dapat dipercaya.

Bagaimana mencari kesempatan untuk menanam kesempatan agar direferensi. Bantulah semaksimal mungkin  saat pelanggan dalam masalah.  Kebanyakan sales cenderung menghindari masalah.

Di dunia ini kesempatan selalu menyamar sebagai masalah, repot dan pekerjaan yang tidak dibayar. Jadi mulai sekarang saat customer anda bermasalah jangan menghindari, atau dilempar ke divisi lain, tapi itu adalah kesempatan anda menanam bibit referensi.

Kira-kira dari daftar pelanggan yang layak dilayani lebih istimewa, siapa yang punya masalah, tapi selama ini dalam hati anda tahu anda pura-pura tidak tahu. Katakan “ Saya tahu bapak punya masalah, boleh saya bantu menyelesaikan, gratis.”

“Apakah anda punya kenalan yang punya masalah seperti ini? Saya akan bantu menyelesaikan.”

Maka anda akan punya posisi anda berkelimpahan anda telah memberi, bukan posisi ngemis untuk minta referensi.

Bisa jadi bukan anda yang bisa menyelesaikan, tapi anda kenal orang yang bisa membantu. Maka anda sudah berguna.

Meminta referensi adalah dengan memberi manfaat.  Dan memberi referensi membuka jalan untuk mendapat referensi.

Christian Adrianto Trainer Sales Terbaik Indonesia

Anda Dapat Order Dari Mana?

Pertanyaannya anda lebih banyak dapat order dari mana?

Semua orang sales pada awalnya, belum punya banyak kenalan, belum banyak pelanggan. Otomatis harus mulai dari yang no 1. Kesengsaraan minimal 3-4 tahun. Sambil menambah kenalan, menambah kemampuan. Tapi dalam 4-5 tahun akan menikmati referensi.  Ada saja orang telepon. Tapi jika dalam 4-5 tahun, 7 tahun , 15 tahun tetap  tidak ada yang tiba tiba telpon untuk order kalo tidak cold call tidak ada order, maka ada yang salah.

Mengapa pelanggan mau mereferensikan kita? Karena pelanggan terkesan dengan pelayanan, kita menyenangkan, kagum dan respek akan profesionalitas kita. Maka sebelum diberi referensi, maka kita harus melayani orang dulu. Kita harus memastikan kita layak dapat referensi.

Jika tidak dapat refernsi, karena berdosa dengan pelanggan. Makanya customer merasa sales membuatnya merasa dineraka. Customer bukan sekedar customer, tapi bibit untuk mendapat referensi.

Tugas tulis 10 nama pelanggan yang layak diberi pelayanan lebih. Yang jika dimanjakan akan memberikan referensi. Dan tulis di masing-masing nama hal yang bisa membuat mereka merasa mendapat kebaikan, merasa puas dengan service kita dan memberikan referensi.

Jika anda tidak tahu 10 best customer anda, maka pantas anda menderita sebagai customer.

Jika anda tidak tahu, maka anda tidak bisa membri service lebih, dan tidak bisa dapat referensi. maka cari tahu.  Ciri-ciri 1. orderan yang paling besar. Orang dengan order yang besar, biasanya levelnya lebih tinggi dan orang dengan level lebih tinggi biasanya kenalannya juga orang-orang dengan level tinggi.

2. yang orderan paling sering. Menunjukkan setia, maka kita juga harus setia pada customer yang setia.

3.  yang proses closingnya paling mulus, cepat, singkat dan gampang. Artinya customer tersebut secara cemistry, sifat dan keprbadian cocok, maka lebih mudah untuk dekat. Ini tidak berlaku untuk yang baru 2-3 tahun jadi sales, karena memang sudah natural hukum alam.

Trainer Sales Terbaik Indonesia, Christian Adrianto